Jumat, 16 Desember 2011

I Believe....


Sebuah lagu yang ingin ku internalisasikan, sembari menangkupkan tangan di dada, dan berbisik : 'I believe in YOU, Allah... :)


I Believe

featuring Maher Zain
IRFAN MAKKI
When you’re searching for the light
And you see no hope in sight
Be sure and have no doubt
He’s always close to you
He’s the one who knows you best
He knows what’s in your heart
You’ll find your peace at last
If you just have faith in Him
You’re always in our hearts and minds
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
My biggest wish is to see you one day

Chorus:
I believe
I believe
Do you believe, oh do you believe?
MAHER ZAIN
Coz I believe
In a man who used to be
So full of love and harmony
He fought for peace and liberty
And never would he hurt anything
He was a mercy for mankind
A teacher till the end of time
No creature could be compared to him
So full of light and blessings
You’re always in our hearts and minds
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
If God wills we’ll meet one day
Chorus
If you lose your way
Believe in a better day
Trials will come
But surely they will fade away
If you just believe
What is plain to see
Just open your heart
And let His love flow through
I believe I believe, I believe I believe
And now I feel my heart is at peace
Chorus
I believe I believe, I believe I believe
Lyrics: Maher Zain, Bara Kherigi & Irfan MakkiMelody: Irfan Makki & Maher ZainArrangement: Maher Zain

Sabar dan Syukur









Jum'at, sayyidul ayyam..

selamat beribadah di hari jumat, kawan..

sedikit cerita tentang hari kemarin.
sore, saat jenuh menghampiri, dan energi telah terkuras sedari pagi. rasa aneh yang teramat sangat entah kenapa hinggap sejak beberapa pekan terakhir; karena jenuh itu mungkin. mencoba mengais cahaya dari teman-teman seperjuangan di kampus dan di kotaku saat ini. subhanallah... mereka memberikan cinta dan energi luar biasa hingga perlahan serpih cahaya itu kembali memenuhi jiwa. lalu ada seorang kawan di FB (sebenarnya kenal di FB ja); membuat status yang cantik:
Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. ~ Ibnu Mas’ud
membacanya membuatku tersentak. yaa Allah.. selama ini apa yang telah kulakukan? bisa jadi jauh dari definisi sabar dan syukur. atau mungkin inikah penyebab 'galau' (atau kata apa ya yg lebih tepat? :) ) ku beberapa hari ini?
hm.. mari bermuhasabah lagi... terimakasih kawan... I got d key! ^^

Kamis, 15 Desember 2011

IBU, MULIANYA DIRIMU






IBU, MULIANYA DIRIMU
Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun y
ang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.
_Khalil Gibran_
Subhanallah.. betapa dalamnya syair di atas mengungkapkan kemuliaan seorang ibu. Ibu yang tak pernah lelah memberikan cinta untuk anak-anaknya.
Pernahkah sejenak saja bayangkan beratnya perjuangan seorang ibu? 9 bulan mengandung dengan segala payah yang menyertainya, lalu sakit dan beratnya melahirkan; setelah itu masih harus melewati fase-fase berat bersama buah hatinya ketika malam-malamnya tak lagi sunyi karena tangisan bayi, tidurnya tak lagi lelap untuk menyusui, ganti popok, atau jerit tangis bayinya yang terjaga. 24 jam ekstra ia limpahkan untuk merawat buah hatinya, menemaninya agar tak kesepian, menyuapinya agar kenyang dan asupan gizinya terpenuhi, memandikannya, menggendongnya kemana pergi; padahal dengan membawa dirinya sendiri saja sudah berat. Tentu ia masih harus memposisikan dirinya sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu Rumah tangga, atau ditambah lagi sebagai seorang wanita karier, mungkin.
Firman Allah dalam Q.S Al-Ahqaaf: 15
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)
Subhanallah….. hanya perempuan-perempuan tangguh yang mampu melewati semuanya. Masihkah ada yang sampai saat ini tak mencintai ibunya? Ibu yang telah mengandung, melahirkan, merawat, dan mencurahkan kasih sayangnya untuk anaknya?.
Astaghfirullah… mari sejenak memohon ampun atas kesalahan-kesalahan kita terhadap orang tua kita; karena menghormati mereka dan berbuat baik kepada mereka adalah hal utama, sebagaimana Firman Allah dalam Q.S Al-Israa: 23:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850]. (Al Israa’: 23)
[850] Mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.
Betapa mulianya menjadi seorang ibu; pantaslah jika dikatakan bahwa syurga di bawah telapak kaki ibu, karena Ridha Allah pun tergantung pula dari Ridha Orang tua (khususnya ibu).
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliau berkata dalam kitabnya Al-Kabaair,
Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.
Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.
Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.
Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.
Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.
Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.
Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.
Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.
Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.
Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.
Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.
Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.
Mari, berbuat sesuatu untuk ibu sebagaimana perintah Allah dan RasulNya.
Buatlah Ibu Tertawa
“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))
Jangan Membuat Ibu Marah
“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua. (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)
Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka.
Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))
Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya. Wal iyyadzubillaah..
Jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkan diri kita pada sang ibu, berbakti, selagi masih ada waktu…;
Luangkan waktu untuknya, buat ia bahagia. Jika tidak dapat bertemu, membaca SMS atau mendengar suara anaknya akan sangat membuat hatinya riang. Terlebih jika ia dilibatkan dalam percakapan-percakapan ringan kita, dalam do’a-do’a kita, dalam canda tawa kita.
Jangan biarkan waktu berlalu tanpa kita sadari, tanpakita berbuat baik padanya, karena ia sangat berharga.
Berbahagialah perempuan, karena engkau mulia
Berbahagialah Ibu, karena engkau telah melahirkan perempuan mulia
Berbahagialah ibu, karena engkau perempuan mulia.
(@Rien, dari berbagai sumber)

Menjadi Ibu Teladan Sepanjang Masa, Menjadi Anak Tak Henti Berbakti



Menjadi Ibu Teladan Sepanjang Masa, Menjadi Anak Tak Henti Berbakti
Oleh Wahda Khadija Salsabiila*

Baru-baru ini sebuah berita dari Jepang menyebutkan bahwa wanita Jepang cenderung memilih untuk hidup mandiri menjadi wanita karier daripada harus berkeluarga dan malahirkan anak. Umumnya, setelah melahirkan anak, maka mereka akan memilih berhenti bekerja dan mengurus anak karena biaya babby sitter yang teramat mahal. Lalu setelah dididik sekian lama,lulus kuliah, bekerja, dan berkarier, anak-anak yang telah dididiknya itu lebih memilih hidup dengan dunianya dibandingkan hidup ‘terbebani’ orang tua yang sudah sepuh. Panti jompo adalah solusi yang mereka gunakan. Alhasil panti jompo menjamur dimana-mana.
Karena belajar dari masa lalu yang ironis itulah wanita muda Jepang tak ingin hamil dan melahirkan anak. Akibatnya, lebih banyak orang tua yang hidup; dan disinyalir untuk sekian tahun ke depan, hanya ada sedikit generasi muda Jepang. Bahkan ketika Pemerintah mengadakan berbagai program agar mereka mau menikah, hamil, lalu melahirkan dan membangun sebuah keluarga; tak banyak yang mau berpartisipasi.
Kisah di atas adalah sebuah gambaran kondisi masa kini dari negeri seberang, negeri sakura yang terkenal dengan berbagai kehebatan teknologi dan industrinya.
Dari hal ini, dapat ditarik benang merah mengenai beberapa hal: pentingnya seorang ibu mendidik dan menjadi teladan bagi anak-anaknya; law of attraction yang akan diterima secara alamiah oleh masing-masing ibu dan anak; pentinganya generasi penerus; dan keharusan seorang anak untuk berbakti.
1. Ibu teladan
Ini bukan ajang pemilihan ibu teladan tingkat manapun. Masing-masing ibu pasti menjadi teladan bagi anak-anaknya, tinggalmemilih untuk menjadi teladan yang baik atau sebaliknya.
Di balik para pahlawan besar, ada wanita-wanita besar.
Ungkapan di atas telah memberikan berbagai bukti. Siapa tak kenal syaikh Abdul Qadir Jailani? Beliau adalah seorang yang sangat menaati ibunya bahkan dalam keadaan terdesak karena dihadang perampok, tetap teguh memegang janjinya untuk jujur dengan mengatakan jumlah uang yang dibawanya; yang berbuntut si perampok akhirnya bertaubat.
Atau seorang Iwan fals yang menelurkan berbagai album rekaman dan mempersembahkan sebuah lagu untuk ibunya, ibu yang berjuang untuk banyak orang di sekitarnya.
Dan tokoh-tokoh lain, pahlawan-pahlawan lain yang melegenda; ada sosok ibu teladan di balik semuanya.
Seorang ibu teladan adalah ibu yang merasa kenyang ketika anak-anaknya tidak kelaparan dan merasa lapar ketika anak-anaknya tidak kenyang. Yang senantiasa mencurahkan kasih saying kepada generasinya; baik ia berperan sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai wanita karier; baginya karier bukanlah halangan untuk membangun keluarga bahagia bersama suami dan anak-anaknya.
Seorang yang mendidik anaknya dengan tulus, mengenalkan hal yang benar dan yang tidak benar; memberikan do’a terbaiknya, dan menuntun anaknya menuju kebenaran hakiki.
Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya tergerus kerasnya zaman dan terseret pergaulan yang kian hari kian membuat kita bergidik ngeri.
Ibu teladan tidak akan membiarkan anaknya berhenti berkreasi dan berinovasi, namun akan senantiasa mengiri langkahnya dan menyeretnya kembali ke tujuan ketika sedikit saja ia salah mengambil langkah.
2. Law of attraction, sebuah hukum sebab-akibat
Izzuddin dalam bukunya ‘The Great Power of Mother’ menceritakan sebuah kisah tentang ‘Nenek Tua dan Meja Kayu’.
Seorang nenek tinggal bersama anak, menantu, dan seorang cucunya. Si nenek sudah keriput,lemah, selalu gemetaran. Apa-apa yang dipegangnya akan jatuh dan berantakan. Ketika mereka berkumpul di meja makan, nenek selalu membuat hal-hal yang mengacaukan suasana; menumpahkan makanan, susu, menjatuhkan piring dan sendok; hingga mereka memutuskan untuk menempatkan nenek di sudut ruangan, sendirian dengan peralatan makan dari kayu. Nenek hanya bisa menangis dan meratapi diri ketika malam menghampiri.
Cucunya yang masih kecil hanya merekam setiap kejadian dalam diam. Hingga suatu malam _yang berjalan seperti biasanya_ si anak sedang bermain dengan perangkat kayu, dan ketika ditanya oleh orang tuanya serta merta menjawab bahwa ia sedang membuatkan seperangkat meja makan dan perlengkapan makan dari kayu untuk orangtuanya, sebagaimana mereka melakukannya untuk nenek.
Dari sanalah mereka tersadar dan kembali menempatkan ibunya di meja makan, dengan segala kondisi yang melengkapinya.
“berbaktilah kepada orang tuamu, maka engkau akan mendapatkan bakti dari anak-anakmu”. Itu adalah hukum alam berupa sebab-akibat yang sudah digariskan oleh Allah, bahwa balasan itu serupa dan selaras dengan amal yang kita perbuat. Apa yang kita lakukan sekarang akan kita petik hasilnya nanti.
3. Generasi penerus itu bernama anak-anak kita



Inilah pentingnya kita melahirkan keturunan, sebanyak-banyaknya dengan kualitas unggul; agar mereka menjadi tumpuan harapan masa depan. Generasi yang menjadi teladan di masa depan dan menjadi penerus tugas manusia menjadi pemimpin di muka bumi.
Jika wanita masa kini enggan untuk melahirkan dan mendidik anak, maka siapa yang akan meneruskan langkah yang telah kita bangun dengan payah dan penuh perjuangan?; semua akan sia-sia tanpa hasil jika tidak ada yang meneruskan estafet itu. Toh, kita tak akan selamanya hidup di dunia ini. Suatu saat akan ada masa kembali; di waktu yang telah ditentukan karena memang dunia hanyalah tempat singgah kita untuk menyiapkan bekal menuju stasiun kehidupan berikutnya sembari mengumpulkan pundi-pundi kebaikan untuk membayar tiketnya.
Anak berkualitas baik secara fisik, mental, maupun spiritualnya adalah salah satu pundi kebaikan yang tak ada habisnya selama mereka masih berbuat baik dan mendoakan orang tuaya.
4. Berbakti, tak mengingkari
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran ,penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q.A An-Nahl (16): 78)
Inilah alas an pertama seorang anak berbakti kepada orang tua khususnya ibu.
Mari sejenak membayangkan kondisi ibu ketika mengandung selama berbulan-bulan dengan segala kondisi berat dan payah yang menyertainya; lalu merasakan sakitnya melahirkan; repotnya mengurus bayi; beratnya mendidik dan memberikan perhatian tarhadap segala hal bagi anaknya.
Adakah alasan lain untuk tidak menghormatinya?
Sementara Rasulullah pun penah bersabda:
“orang tua adalah pintu syurga yang paling tengah. Terserah padamu, apakah kau sia-siakan pintu itu atau memeliharanya”. (HR Tirmidzi)
Menjadi apapun kita saat ini, kita adalah seorang anak. Dan bagi wanita adalah keniscayaan menjadi seorang ibu. Seseuai dengan law attraction di atas maka apa yang kita lakukan saat ini terhadap kedua orang tua kita bisa jadi akan berbalas terhadap diri kita di hadapan anak-anak kita nanti.
Tiada kata berhenti untuk terus belajar, menggali dari segala yang ada. Untuk senantiasa belajar menjadi seorang anak yang tiada lelah berbakti, dan menjadi seorang ibu yang tiada putus mencintai. (@Rien, dari berbagai sumber)
*Penulis adalah seorang muslimah yang terus belajar memperbaiki diri, pekerja social dan pemerhati masalah kaum perempuan.

Rabu, 16 November 2011

JIKA CINTA


JIKA CINTA

Jika kau mengerti
Maka hidup ini adalah cinta
Senyum yang cinta
Tawa yang cinta
Tangis yang cinta
Airmata cinta

Jika kau cinta
Maka cinta adalah hidup
Cinta adalah senyum
Cinta adalah tawa
Cinta adalah tangis

Cinta Sang Pemberi kehidupan,
Cinta manusia,
Cinta segalanya

__2011__

(dimuat di majalah 'EMBUN' edisi November 2011)