Kamis, 15 Desember 2011

Menjadi Ibu Teladan Sepanjang Masa, Menjadi Anak Tak Henti Berbakti



Menjadi Ibu Teladan Sepanjang Masa, Menjadi Anak Tak Henti Berbakti
Oleh Wahda Khadija Salsabiila*

Baru-baru ini sebuah berita dari Jepang menyebutkan bahwa wanita Jepang cenderung memilih untuk hidup mandiri menjadi wanita karier daripada harus berkeluarga dan malahirkan anak. Umumnya, setelah melahirkan anak, maka mereka akan memilih berhenti bekerja dan mengurus anak karena biaya babby sitter yang teramat mahal. Lalu setelah dididik sekian lama,lulus kuliah, bekerja, dan berkarier, anak-anak yang telah dididiknya itu lebih memilih hidup dengan dunianya dibandingkan hidup ‘terbebani’ orang tua yang sudah sepuh. Panti jompo adalah solusi yang mereka gunakan. Alhasil panti jompo menjamur dimana-mana.
Karena belajar dari masa lalu yang ironis itulah wanita muda Jepang tak ingin hamil dan melahirkan anak. Akibatnya, lebih banyak orang tua yang hidup; dan disinyalir untuk sekian tahun ke depan, hanya ada sedikit generasi muda Jepang. Bahkan ketika Pemerintah mengadakan berbagai program agar mereka mau menikah, hamil, lalu melahirkan dan membangun sebuah keluarga; tak banyak yang mau berpartisipasi.
Kisah di atas adalah sebuah gambaran kondisi masa kini dari negeri seberang, negeri sakura yang terkenal dengan berbagai kehebatan teknologi dan industrinya.
Dari hal ini, dapat ditarik benang merah mengenai beberapa hal: pentingnya seorang ibu mendidik dan menjadi teladan bagi anak-anaknya; law of attraction yang akan diterima secara alamiah oleh masing-masing ibu dan anak; pentinganya generasi penerus; dan keharusan seorang anak untuk berbakti.
1. Ibu teladan
Ini bukan ajang pemilihan ibu teladan tingkat manapun. Masing-masing ibu pasti menjadi teladan bagi anak-anaknya, tinggalmemilih untuk menjadi teladan yang baik atau sebaliknya.
Di balik para pahlawan besar, ada wanita-wanita besar.
Ungkapan di atas telah memberikan berbagai bukti. Siapa tak kenal syaikh Abdul Qadir Jailani? Beliau adalah seorang yang sangat menaati ibunya bahkan dalam keadaan terdesak karena dihadang perampok, tetap teguh memegang janjinya untuk jujur dengan mengatakan jumlah uang yang dibawanya; yang berbuntut si perampok akhirnya bertaubat.
Atau seorang Iwan fals yang menelurkan berbagai album rekaman dan mempersembahkan sebuah lagu untuk ibunya, ibu yang berjuang untuk banyak orang di sekitarnya.
Dan tokoh-tokoh lain, pahlawan-pahlawan lain yang melegenda; ada sosok ibu teladan di balik semuanya.
Seorang ibu teladan adalah ibu yang merasa kenyang ketika anak-anaknya tidak kelaparan dan merasa lapar ketika anak-anaknya tidak kenyang. Yang senantiasa mencurahkan kasih saying kepada generasinya; baik ia berperan sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai wanita karier; baginya karier bukanlah halangan untuk membangun keluarga bahagia bersama suami dan anak-anaknya.
Seorang yang mendidik anaknya dengan tulus, mengenalkan hal yang benar dan yang tidak benar; memberikan do’a terbaiknya, dan menuntun anaknya menuju kebenaran hakiki.
Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya tergerus kerasnya zaman dan terseret pergaulan yang kian hari kian membuat kita bergidik ngeri.
Ibu teladan tidak akan membiarkan anaknya berhenti berkreasi dan berinovasi, namun akan senantiasa mengiri langkahnya dan menyeretnya kembali ke tujuan ketika sedikit saja ia salah mengambil langkah.
2. Law of attraction, sebuah hukum sebab-akibat
Izzuddin dalam bukunya ‘The Great Power of Mother’ menceritakan sebuah kisah tentang ‘Nenek Tua dan Meja Kayu’.
Seorang nenek tinggal bersama anak, menantu, dan seorang cucunya. Si nenek sudah keriput,lemah, selalu gemetaran. Apa-apa yang dipegangnya akan jatuh dan berantakan. Ketika mereka berkumpul di meja makan, nenek selalu membuat hal-hal yang mengacaukan suasana; menumpahkan makanan, susu, menjatuhkan piring dan sendok; hingga mereka memutuskan untuk menempatkan nenek di sudut ruangan, sendirian dengan peralatan makan dari kayu. Nenek hanya bisa menangis dan meratapi diri ketika malam menghampiri.
Cucunya yang masih kecil hanya merekam setiap kejadian dalam diam. Hingga suatu malam _yang berjalan seperti biasanya_ si anak sedang bermain dengan perangkat kayu, dan ketika ditanya oleh orang tuanya serta merta menjawab bahwa ia sedang membuatkan seperangkat meja makan dan perlengkapan makan dari kayu untuk orangtuanya, sebagaimana mereka melakukannya untuk nenek.
Dari sanalah mereka tersadar dan kembali menempatkan ibunya di meja makan, dengan segala kondisi yang melengkapinya.
“berbaktilah kepada orang tuamu, maka engkau akan mendapatkan bakti dari anak-anakmu”. Itu adalah hukum alam berupa sebab-akibat yang sudah digariskan oleh Allah, bahwa balasan itu serupa dan selaras dengan amal yang kita perbuat. Apa yang kita lakukan sekarang akan kita petik hasilnya nanti.
3. Generasi penerus itu bernama anak-anak kita



Inilah pentingnya kita melahirkan keturunan, sebanyak-banyaknya dengan kualitas unggul; agar mereka menjadi tumpuan harapan masa depan. Generasi yang menjadi teladan di masa depan dan menjadi penerus tugas manusia menjadi pemimpin di muka bumi.
Jika wanita masa kini enggan untuk melahirkan dan mendidik anak, maka siapa yang akan meneruskan langkah yang telah kita bangun dengan payah dan penuh perjuangan?; semua akan sia-sia tanpa hasil jika tidak ada yang meneruskan estafet itu. Toh, kita tak akan selamanya hidup di dunia ini. Suatu saat akan ada masa kembali; di waktu yang telah ditentukan karena memang dunia hanyalah tempat singgah kita untuk menyiapkan bekal menuju stasiun kehidupan berikutnya sembari mengumpulkan pundi-pundi kebaikan untuk membayar tiketnya.
Anak berkualitas baik secara fisik, mental, maupun spiritualnya adalah salah satu pundi kebaikan yang tak ada habisnya selama mereka masih berbuat baik dan mendoakan orang tuaya.
4. Berbakti, tak mengingkari
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran ,penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q.A An-Nahl (16): 78)
Inilah alas an pertama seorang anak berbakti kepada orang tua khususnya ibu.
Mari sejenak membayangkan kondisi ibu ketika mengandung selama berbulan-bulan dengan segala kondisi berat dan payah yang menyertainya; lalu merasakan sakitnya melahirkan; repotnya mengurus bayi; beratnya mendidik dan memberikan perhatian tarhadap segala hal bagi anaknya.
Adakah alasan lain untuk tidak menghormatinya?
Sementara Rasulullah pun penah bersabda:
“orang tua adalah pintu syurga yang paling tengah. Terserah padamu, apakah kau sia-siakan pintu itu atau memeliharanya”. (HR Tirmidzi)
Menjadi apapun kita saat ini, kita adalah seorang anak. Dan bagi wanita adalah keniscayaan menjadi seorang ibu. Seseuai dengan law attraction di atas maka apa yang kita lakukan saat ini terhadap kedua orang tua kita bisa jadi akan berbalas terhadap diri kita di hadapan anak-anak kita nanti.
Tiada kata berhenti untuk terus belajar, menggali dari segala yang ada. Untuk senantiasa belajar menjadi seorang anak yang tiada lelah berbakti, dan menjadi seorang ibu yang tiada putus mencintai. (@Rien, dari berbagai sumber)
*Penulis adalah seorang muslimah yang terus belajar memperbaiki diri, pekerja social dan pemerhati masalah kaum perempuan.

1 komentar:

  1. Ini tulisan untuk buletin Salimah, GOW Wonosobo edisi Desember.
    semoga bermanfaat.:)

    BalasHapus

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,