Rabu, 19 Desember 2012

SENYUM DOKTER KECIL

oleh Wahda Khadija Salsabiila

Langkah-langkah kaki-kaki kecil tak beralas itu semakin cepat berpacu dengan waktu seolah tak ingin kehilangan sedetik pun moment.  Hari ini mereka akan menyambut kedatangan mahasiswa dari UGM yang akan mengadakan KKN selama sebulan di Desa Wonokromo, sebuah Desa di kabupaten Wonosobo.

Kabut yang mulai turun sore itu tak membuat semangat mereka menurun. Udara yang menyergap dingin tak membuat langkah mereka terhenti. Rasa penasaran yang muncul sejak dua pekan yang lalu saat Pak guru di kelas menyampaikan kedatangan mahasiswa KKN semakin memuncak. Sungguh, wajah-wajah polos itu begitu antusias.

Pukul 16.00, balai Desa telah ramai oleh para pejabat desa, warga desa, dan anak-anak sekolah; mereka telah menunggu sejak seperempat jam yang lalu, meskipun mahasiswa KKN dijadwalkan akan tiba pukul 16.30.

“Mereka datang!” teriak seseorang dari luar. Akhirnya rasa penasaran mereka terbalaskan. Para mahasiswa itu memperkanalkan diri Ada Kak Fitri yang berjilbab lebar, Kak Dwi yang cantik dan berambut pendek lurus, Kak Wayan yang Kocak, Kak Reza, Kak Adi, dan Kak Hakim.

Seorang anak perempuan siswa kelas 4 terdiam di tempat duduknya. Senyumnya mengembang menatap para mahasiswa yang berjajar di panggung. Sementara matanya bercahaya dan berkaca-kaca. Dalam hati ia berkata ‘aku ingin menjadi seperti mereka’.
***
“Adik-adik, besok kakak akan datang ke sekolah lagi, adik-adik kakak beri tugas untuk menggambar sikat gigi, yang gambarnya bagus kakak beri hadiah sikat gigi” kata kak Fitri di depan kelas.

Esoknya, seluruh penghuni kelas 4 membawa gambar terbaik mereka tak terkecuali Ririn, gadis kecil berkerudung itu telah terpikat oleh pesona yang dibawa para mahasiswa KKN. Sejak pertama melihat ia sangat terkagum-kagum.
“Bagus! Nah, sekarang Kakak akan memberikan hadiah untuk yang gambarnya paling bagus. Ririn, Melia, dan Yusuf. Silakan maju ke depan.”

Dengan senyum terkembang, gadis tanpa alas kaki itu mengambil hadiah berupa sikat gigi dari Kak Fitri, sikat gigi pertama yang khusus untuk dirinya karena selama ini ia dan keluarganya hanya memiliki satu sikat gigi yang kadang belum diganti hingga bulu-bulu sikatnya hampir habis.
“Hari ini  kita akan belajar tentang gigi dan mulut. Kak Fitri akan mencoba memeriksa mulut kalian.” Kata Kak Fitri saat Ririn dan Melia tengah belajar menyiapkan kompetisi dokter kecil.

Ririn terperangah, dalam hati ia sangat gundah karena menyadari giginya pasti banyak masalah.
“Ririn kenapa suka nutupin mulut kalau ketawa, hayo?” selidik Kak Fitri. Yang ditanya malah semakin rapat menutupi mulutnya. Ya, kata Ibu dirumah, barisan gigi Ririn seperti jagung buluk karena ia jarang menggosok gigi.

Cekatan muslimah berjilbab itu menyiapkan alat-alat periksa giginya. Sejurus kemudian ia telah menguasai mulut Ririn dan dengan bantuan kaca mulutnya menelusuri satu persatu giginya hingga ke bagian terdalam.

“Ririn jarang sikat gigi ya?” cetus Kak Fitri tiba-tiba. Ririn mengangguk malu, tanpa menjawab. Kaca mulut dan senter masih belum selesai bergerilya di rongga mulutnya.
“Besok kita bersihkan gigi Ririn.” Lanjut Kak Fitri tegas.
***
Menunggu hari berganti seolah detik demi detik berjalan teramat lambat bagi Ririn. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Kak Fitri besok, tapi ia belum pernah melihat orang ‘operasi gigi’ atau sejenisnya. Bayangan-bayangan berbagai alat yang akan dipakai dan rasa sakit membuatnya tak bisa memejamkan mata hingga larut.

Esoknya ia memakai pakaian terbaiknya untuk menghadapi hari yang bisa jadi menjadi hari bersejarah bagi giginya itu. terselip juga harapan-harapannya jika nanti giginya bisa dibersihkan.

Kak Fitri memintanya duduk di kursi, bersandar di kursi beralas bantal yang sengaja diletakkan di sana agar punggungnya tidak sakit. Ia tak begitu memperhatikan apa yang dilakukan kak Fitri, hanya mengikuti apa yang diperintahkan kepadanya. Mulai dari berkumur dengan cairan berwarna merah, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menahan rasa ngilu ketika dengan alat yang bernama entah apa itu Kak Fitri menggosok karang giginya.

Hampir dua jam eksekusi gigi itu berjalan, Melia sahabat sekaligus rivalnya di kelas tetap setia menemani Ririn, sesekali bertanya ini itu kepada Kak Fitri.
***
Kompetisi dokter kecil yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ririn telah meminjam sepatu dari tetangganya untuk hari istimewa yang dinanti itu. pakaian serba putih melakat di tubuhnya, terlihat manis meski kulitnya yang coklat terlihat semakin coklat.
“Kak, Ririn berjanji akan memberikan yang terbaik. Apapun hasilnya nanti, Ririn akan berusaha.” Ucap Ririn bersemangat di hadapan Kakak-kakak mahasiswa.
“Bagus! Kita harus melakukan yang terbaik. Semangat!” sambut Kak Fitri mengobarkan lagi semangatnya.

Mereka membuktikan perkataannya. Ririn yang menjadi juru bicara kelompoknya didampingi Melia dan Yusuf sigap menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan. Babak pertama mereka mampu memimpin diantara dua kontingen lainnya. Namun, saat babak rebutan berlangsung, beberapa kali mereka tertinggal sedetik dengan kelompok lain. Akibatnya, soal yang bisa mereka jawab harus direlakan terjawab oleh kelompok lain.

“Sudahlah, kalian sudah memberikan yang terbaik. Kakak semua bangga dengan kalian.” Hibur Kak Fitri lembut saat dengan wajah kuyu mereka kembali ke tempat duduk. Kecewa, itu yang terbayang dalam wajah mereka. Mereka telah gagal menuju babak final hanya karena selisih 1 angka.

Satu persatu mahasiswa KKN itu menghibur Ririn, ia yang paling kecewa saat itu. perlahan ia kembali tersenyum meski teramat tipis. tiba-tiba Kak Fitri duduk di sebelahnya dan dengan lembut merangkul pundaknya, menyalurkan energi sekaligus mengucapkan terimakasih dengan sangat tulus.

Mata gadis itu berkaca-kaca demi mendapatkan perhatian yang begitu dalam. Kepercayaan dirinya kembali muncul. Kepercayaan diri yang dibangunnya beberapa pekan terakhir setelah giginya menjadi seputih susu kembali runtuh karena kegagalan sesaat di kompetisi itu. Namun dalam hati ia kembali bertekad untuk menumbuhkan rasa itu, ia tak ingin lagi mengecewakan orang-orang terkasihnya, dan orang-orang yang telah berbuat banyak untuknya.

“Kak, aku ingin menjadi dokter gigi seperti Kak Fitri.” Ucap Ririn mantap.

Dalam hati ia bertekad menjadi seorang dokter agar bisa bermanfaat untuk banyak orang, dan menjadi seperti mahasiswa KKN di kampungnya, orang-orang terpelajar yang peduli dan tidak tinggi hati.

Impiannya telah ia sematkan dalam-dalam di ruang hatinya, diaminkan oleh para malaikat yang mengelilinginya, dan melesat jauh hingga ‘ArsyNya.  Meskipun ia tak pernah tahu alur cerita seperti apa yang telah Allah skenariokan untuknya, meskipun ia tak pernah mengerti takdir mana yang telah Allah gariskan dalam hidupnya.
Senyum itu pertanda ia telah menemukan bahagia.


*based on a true story, kisah ini pernah diikutkan sebuah lomba tapi belum lolos
special to Kak Fitri, wherever U are, thanks a lot for all u’r job. Kakak… aku masih mengingatmu hingga hari ini, masih ingatkah engkau? Semoga Allah selalu menjagamu dimanapun. 

Tahun 1997 (atau mungkin 1998, agak lupa waktu itu aku kelas 4 SD), mahasiswa KKN dari UGM datang ke Desaku dan mengadakan berbagai macam kegiatan. masih tersimpan rapi kenangan bersama kak Fitri (yang bahkan tak kuketahui nama lengkapnya) aku hanya tahu ia berasal dari Aceh. Jilbab lebarnya membuatku kagum.

Antologi ke 5: MELUPAKAN

Melupakan #2
-Bermasalah dengan waktu-

Genre : Kumpulan cerpen remaja
Penulis : Boneka Lilin et Boliners
Editor : Boneka Lilin
Layout : Boneka Lilin
Design Cover : Ary Hansamu Harfeey
ISBN :
Tebal : 148 Hlm; 14,8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp 42.000,-





Sinopsis

Dipaksa untuk melupakan seseorang yang sudah seperti bagian dari diri yang lain itu, ibarat memisahkan permen karet yang tersangkut pada rambut. Sulit untuk melepaskannya satu-satu, dan tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar. Namun untuk mempersingkatnya pun tidak terbilang mudah, karena sama sulitnya saat dihadapkan pada kenyataan bahwa rambut yang disayang harus dipangkas sebanyak yang terko
ntaminasi, agar bersih hingga sempurna dari partikel permen karet paling terkecil sekalipun.

Andai saja melupakanmu semudah mendung yang luruh menjadi hujan. Tapi Tuhan telah menakdirkan titik di antara kita, dan segalanya sudah cukup untuk menghentikan usahaku mengubah titik itu menjadi koma.

Melupakanmu hanya masalah waktu. Cepat atau lambat, aku yakin mampu jika mau.
***
Kontributor :
Boneka Lilin, Baim, Titin Indriati, Lisa Damayanti, Rhie, Wahda Khadija Salsabiila, Arifa Rahma, Peliana Scania, Niknik Nursifa, Sepri Ayu Flow, Tanti Fitriantini, Kirana Octaviana Putri Susilo Wati, Dewi Iris, Anggun Sugiarti, Kharisma Widyastuti, Dwi Wahyuniati, Yuli Maulidya, Rini Nurul Hidayah, Febri Nina Fath Ratu, Fathi ARain, Diyar Oksana, Yussy Dian Pramita, Tyssa Kurniaty, Lina, Teny Noor Fratiwi, Noermayani, Nur Dwi Ratnasari Ningtyas, Tri Utami Raudani, Riska Putri, Erfani Tri Mardiani, Nieda Haromain, Lin Hana FAM879M, Putri Rahayu.
***
Kumpulan cerpen keren yang bisa bikin kamu bilang "WOW" ini bisa dipesan melalui para kontributor,  Wahda khadija Salsabiila (085 729 021 512)


Senin, 17 Desember 2012

_Sertifikat Menulis_




Antologi ke-3 ku yang sudah diterbitkan_ The Formula of Charity 1 : 1 = 11The Formula of Charity 1 : 1 = 11


The Formula of Charity 1 : 1 = 11
-Dia memberi 10, saat aku berbagi 1-


Genre : Kumpulan FTS inspiratif tentang beramal
Penulis : Boneka Lilin et Boliners
Editor : Boneka Lilin

Design Cover : Ary Hansamu Harfeey
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-18917-9-7
Tebal : 166 Hlm; 14,8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp40.000,-



SINOPSIS

Tidak pernah ada dalam sejarahnya orang menjadi miskin karena beramal. Dengan beramal, justru Tuhan akan semakin melipatgandakan rizky setelah proses "pencucian" harta tersebut.

Satu hal yang perlu dijadikan prinsip, "Jangan menunggu kaya untuk beramal, tapi beramallah niscaya kamu menjadi kaya."

51 kisah nyata penuh hikmah terangkum tentang keajaiban dari rumus beramal. Di mana ketika kita berbagi 1, maka Tuhan akan memberi 10.

***

Penulis Kontributor :

Boneka Lilin, Chinglai Li, Ardinal, Silviani Yunistia, Suci Fitriyanti Nur Amandasari, Elrifa Wiwid, Muhammad, Nelly Nezza, Neli Rosdiana, Zahara Putri, Al Khanza Demolisher, Sofiyah Fu’adah, Mardiana Susanti, Mohamad Misbah, Hady Kristian, Nurdian Dhee Muttaqin, Sri Juli Astuti, Yeyen Septia Anggraini, Anisa Wijayanti, Rezita Agnesia Siregar, Cici N. Nandi, Putri An-Nissa Nailhatul Izzah, May Valentine, Meliana Levina Prasetyo, Anzil Laila, Wisandria Notisa, Kania Poetry, Wahda Khadija Salsabiila, Nai Azura, Ratna Eka Sari, Rin Agustia Nur Maulida, Indah Permatasari, Yussy Dian Pramita, Tomy M. Saragih, Ghiyatsableng, Yanita Widjayanti, Askar Marlindo, Murni Oktarina, Nenny Makmun, Abdushabur Rasyid Ridha, Rizki Alawiya, Wahyu Widyaningrum, Andik Chefasa, eLKa Nisa Mahdi, Leni Sundari, Lateeva Martufemi, Vita Ayu Kusuma Dewi, Nai Saras, Heru Patria, Yuni Ayu Amida, Yuni Retnowati.

***

Buku inspiratif ini bisa dipesan melalui para penulis kontributor, inbox FB Wahda Khadija Salsabiila  atau sms ke 085729021512.  Mari berbagi hikmah tentang sedekah. :)




Sabtu, 01 Desember 2012

SELAMAT JALAN, MBAH UTI


KAMIS. 8 NOVEMBER 2012
Pagi hari menjelang berangkat kerja, mendapati SMS masuk dari bulik Umi.
_Arin, simbah sehat? Simbah mau datang ke sini kan, Ada pengajian?_
Aku bergegas menyampaikan ke simbah uti ku perihal SMS dari putrid tercintanya itu.
“simbah pengen ke sana, kalau sehat, kalau ada yang nagnterin”
Aku pun menyampaikan kembali kepada bulik Umi via SMS.
“apa dianterin naik motor saja?” kali ini ibuku yang urun suara. Tapi simbah menolak dengan mengatakan tidak berani naik motor jauh-jauh, takut tidak kuat.
Ibu dan aku sama-sama terdiam, bingung dengan pikiran masing-masing bagaimana caranya mengantarkan simbah ke sana karena beberapa hari ini memang bukan jadwalku libur.

JUM’AT, 9 NOVEMBER 2012
Pagi-pagi simbah kembali bertanya,
“Besok libur kan? Besok anterin simbah ke tempat bulik ya, siangan aja”
“Tapi Arina besok siang mau kondangan, Mbah. Kalau pagi saja bagaimana?” dengan sedikit berat kujawab pertanyaannya.
“Yasudah, besok pagi nggak apa-apa yang penting kamu nemenin simbah”
“Nggih, Mbah.. insyaAllah, jawabku meyakinkan
Dan saat aku pulang ke rumah menjelang magrib setelah seharian bekerja dan mengajar les di panti asuhan, aku melihat simbah uti ku duduk di kursi di depan TV, seperti biasa ia akan menyapaku ketika aku pulang ke rumah.
Aku pun kembali disibukkan dengan agenda-agendaku menyiapkan mentoring bersama adik-adik SMP esok hari juga menyelesaikan beberapa tulisan karena dikejar deadline.
Masih kudengar batuk-batuk mbah uti yang besar dan sesekali keluhannya karena terlalu lama batuk tak sembuh-sembuh. Masih pula kudengar ia mengeluh tak bisa banyak membaca al-Qur’an karena sering buang angin terlebih ketika batuk. Alhasil ia harus bolak-balik mengambil air wudhu agar bisa tilawah, sementara di Wonosobo yang dingin itu teramat berat rasanya untuk berkali-kali mengamboil air wudlu, terlebih kondisi simbah sedang kurang sehat.


SABTU, 10 NOVEMBER 2012
Pukul 6 pagi, simbah mulai berkemas, meminjam tas milikku yang sedang untuk tempat mambawa pakaian ganti selama beberapa hari menginap di rumah bulik. Ia pun telah menitipkan uang yang rutin ia berikan kepada tetangga yang membutuhkan, sebagian dari gaji pensiunnya.
Pukul 7 pagi ia telah siap berangkat tapi aku belumlah usai mencuci pakaian yang pagi ini cukup menumpuk. Ia pun menungguku sembari duduk di depan TV, menonton acara pagi yang mungkin sebenarnya kurang menarik untuknya.
Pukul 9 tepat aku telah siap berangkat. Kami berangkat menumpang ojek dari depan rumah, aku yang membawakan tas tangan dan tas pakaiannya. Sampai  di jawar kami pun mealnjtkan dengan menumpang angkot hingga perempatan hotel kresna, menyambung lagi dengan angkot yang lain. Di dalam angkot kami bertemu dengan tetangga desa (yang meskipun tidak kenal tetapi bisa ngobrol enak dengan kami).
Turun dari angkot kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek kembali. Maklum, simbah sudah tidak kuat untuk berjalan kaki.
Saat menuju rumah bulik, kami pun berpapasan dengan tetangga bulik yang kami kenal dan sejenak berbasa-basi.
Kurang lebih pukul 10 sampai di rumah bulik, momen yang cukup membahagiaan bulik karena akhirnya simbah bisa datang.
Saat itu bulik sedang sibuk menyiapkan makanan untuk acara pengajian hari ahad besok. Aku pun belajar untuk membuat kue lapis.
Pukul 11 siang aku pun harus pergi untuk menghadiri walimatul ‘urs seorang sahabat, maka tanpa menunggu kue matang aku pun pamitan. Tak ada yang khusus disampaikan simbah waktu itu. hanya ucapan seperti biasanya, ‘hati-hati’.
Setelah menghadiri acara walimah, bersama sahabatku menjenguk seorang kenalan yang sakit di RSI. Kebetulan tempat walimah dan RSi berdekatan sehingga kami putuskan untuk langsung ke sana. Subhanallah… siang itu mendapatkan pelajaran tentang beratnya perjuangan seorang ibu: melahirkan. Sang ibu yang telah berhasil melalui masa sulit itu masih harus dirawat karena sakit yang lain, bayinya pun sakit, alhasil mereka harus berpisah selama beberapa hari. Subhanallah.. semoga Allah membalas perjuanganmu itu dengan yang lebih baik, kak.
Keluar dari RSI, hujan mulai menderas tapi mau tak mau kami harus melanjutkan agenda seperti yang telah direncanakan: menengok sahabat yang lain yang juga baru melahirkan.
Subhanallah… hari yang benar-benar padat karena aku pun masih harus mengisi mentoring anak-anak SMP. But bismillah n enjoy it! Niatkan untuk ibadah, insyaAllah.
Hari ahad esok aku harus berangkat ke Semarang mewakili rakorwil santika Jateng. Aku pun menyiapkan bekal dan perlengkapan yang harus ku bawa.  Tepat ketika adzan maghrib berkumandang aku telah sampai ke mbali dirumah. Alhamdulillah…
Ba’da isya, aku masih melanjutkan menulis beberapa tulisan yang menjelang deadline, namun ibu ku tercinta mengingatkan aku untuk segera tidur karena besok akan pergi pagi-pagi ba’da shubuh. Aku mengiyakan sarannya, sekitar jam 11 malam aku pun terlelap.

AHAD, 02.xx
Aku terbangun oleh suara keras yang berasal dari paklik. Orang yang membuatku berfirasat buruk karena pagi-pagi telah sampai di rumah.
‘ada apa ya? Ko paklik pagi-pagi buta kesini?’ batinku.
Aku pun terbangun dan bergegas meraih HP. Terlihat sebuah miscall dari kakak sepupuku, 1 SMS pemberitahuan ada yang menghubungi (mungkin karena tidak ada sinyal kadi tidak bisa masuk), dan sebuah SMS dari adikku yang tengah berada di Semarang.
‘Mba. Kata mas shonef simbah meninggal di rumah bulik? Bener ga?’  
Serasa mendapati petir di siang bolong, tak ada hujan tak ada mendung. Buru-buru melompat dari tempat tidur sambil berteriak mencari bapak dan ma’e yang juga tengah kalut mendengar berita itu.
“sudah, tenang. Sekarang kita nyiapin tempat sama nyari pinjaman mobil untuk menjemput jenazah simbah, kata bulik tadi minta kita yang menjemput biar disana ngga rame, ditempat bulik kan ada pengajian hari ini” kata bapak menenagkan kami. Tapi aku masih tak bisa tenang, sibuk memikirkan dan flashback aktivitasku selama 24 jam terakhir. Hm.. simbah, semudah itu kau berpulang..
“Rin, jangan lupa izin acara ke Semarang, katanya mau berangkat jam setengah lima”. Kata bapak mengingatkan. Aku pun menghubungi beberapa orang yang bertanggung jawab di agenda ke semarang.
Detik-detik berlalu dengan teramat lambat. Paklik dan adik sepupuku bersama bapak mencari pinjaman mobil tapi tak juga mendapatkan. Tiba-tiba hujan turun teramat deras, akhirnya harus mengehntikan dulu sementara mencari pinjaman mobil sambil terus mengabari bulik karena kami belum dapat mobil. Komikasi menjadi lambat dan tersendat karena sinyalnya pun timbul tenggelam. Yaa Rabb.. mudahkanlah…
Menjelang pukul 4, salah satu sopir bisa dihubungi dan langsung bersiap. Aku telah membereskan tempat untuk jenazah simbah nanti, dan bergegas mengambil air wudhu.
Saat adzan subuh berkumandang dari masjid di dekat rumah, jenazah simbah sampai. Beberapa tetangga yang menyaksikan keramaian pun berdatangan mencari tahu apa yang terjadi. Semua terkaget mendengar kabar simbah putrid meninggal, terlebih beberapa orang yang melihat beliau keluar bersamaku.
Simbah… kulihat ia begitu teduh dalam senyum terakhirnya. Semoga engkau khusnul khatimah, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, berkumpul kembali bersama simbah kakung yang telah mendahuluimu…
Dari bulik kudengar ajal simbah teramat singkat dan mudah. Waktu itu beliau bangun menjelang pukul 2 pagi untuk mengambil air wudhu dan shalat malam sebagaimana kebiasannya. Namun baru sampai di depan pintu kamar mandi ia terjatuh. Bulik yang mendengarnya pun bergegas mengejar dan membantu simbah untuk bangkit namun badan simbah sudah lemah. Mendapati kejadian itu bulik segera membimbing simbah untuk melafalkan ‘Allah..Allah..Allah..’ dan tak lama kemudian simbah telah berpulang.
Subhanallah.. akhir yang singkat, dan ini pun menjadi pengingat untukku.
Terlabih saat pagi hari begitu banyak orang yang datang untuk mendo’akan simbah. Aku terharu… mungkin karena simbah begitu berarti buat mereka dan keberadaanya member manfaat untuk banyak orang sehingga ketika ia berpulang, banyak yang mendo’akan dan mengenangnya.
Selamat jalan simbah… semoga harum wangi syurga dan kesiur anginnya menyejukkanmu yang tengah beristirahat di alam kubur….
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiiha wa’fu ‘anha..
-Simbah Putri, in memoriam_

Senin, 29 Oktober 2012

Aku: Lakon Sandiwara Kehidupan

Aku:

Lakon Sandiwara Kehidupan

Episode Airmata:
Bersama rumput yang melayu
Beriring daun bergugur
Pahit itu sesak
Kala kudapati
Ramai drama penindasan
Berdesak angkara murka
Menjilat-jilat api kejahatan

Oh: riuhnya panggung itu

Episode Tawa:
Bersama ceria anak manusia
Tanpa dosa
Ada tangan terulur
Berbumbu cinta
Ada senyum terukir
Bernama pengertian

Langkah- langkah kecil
Tapaki kerikil-kerikil permata
Kaki-kaki bertelanjang
Kecipak ditingkah manis
Senyum semesta

Episode Bimbang:
Kemana mesti kugiring langkah
Ke kedamaian yang fana
Atau ke keabadian nan gulita
Seperti Simalakama
Pahit mesti kusepah
Pahitpun kutelan

Episode Tanya: ?
Bertanya: ?
Untuk apa?
Kepada siapa?

Episode Tanpa Suara: Senyap
Karena aku:
Lakon itu
Sandiwara itu
Kehidupan sesaat

Ah, biar saja melangkah
Tanpa kata
Asalkan hati ini
Masih bernyawa
Masih menyala

Aku:
Lakon kehidupan
Sandiwara yang
Berbisik makna

_Semarang, 2010_

Senin, 08 Oktober 2012

DIA YANG PERGI MEMBAWA LUKA


DIA YANG PERGI MEMBAWA LUKA

Pria itu jeli memperhatikan sekelilingnya sesaat sebelum menuju sebuah konter HP di sudut gang sempit. Sesekali menengok kanan-kiri, berharap tidak bertemu muka dengan seorang pun yang dikenalnya. Perlahan kakinya melangkah memasuki konter penjualan Handphone dan segala aksesorisnya; lalu duduk di kursi plastik yang tersedia di berandanya.
Penjaga konter tanggap dengan kehadirannya lalu menyapa dengan ramah. Namun pria berjenggot tipis itu enggan menatap si pramuniaga yang berbusana minim lengkap dengan dandanan menor.
“hm… beli perdana yang ini mba..” ucapnya pelan
“oh, Iya Mas. Harganya Rp.10.000; ada yang lain?”.alih-alih menjawab, ia hanya menggeleng sembari mengangsurkan selembar uang sepuluh ribu. 
Buru-buru disimpannya kartu perdana yang katanya raja SMS itu ke dalam ransel hitamnya lalu ia melanjutkan langkah sambil sesekali menoleh ke belakang. Entah apa yang membuatnya gelisah pagi ini. Biasanya, jam 10 ia telah keluar dari kelas lalu bergabung dengan teman-teman di organisasi yang dia ikuti, dan setengah jam kemudian ia telah berada di dalam mushola kampus untuk menunaikan shalat dhuha dan membaca buku atau tilawah sambil menanti waktu shalat dhuhur tiba.
Namun pagi tadi ia murung di kelas, pikirannya menerawang ke berbagai hal yang dilewatinya beberapa hari silam dan menyebabkan kegalauan hatinya mencapai tingkat akut. Lalu begitu dosen keluar dari kelas ia pun membawa langkahnya kembali kos. Tak ada teman organisasi, tak ada mushala sepi pagi ini.
Rumah kosnya sudah terlihat di ujung gang, namun membuatnya urung melangkah karena dua muslimah yang berdiri di depan pintu terlihat menanti seseorang. Spontan ia bersembunyi di rerimbunan pohon dan memperhatikan mereka. Ah, untung tidak terlalu lama karena yang ditunggu segera muncul sambil mengangsurkan sebuah buku lalu keduanya pergi.
Pria berkulit putih itu masih mematung meski keduanya telah hilang dari pandangan. Luka hatinya seakan menganga kembali, perih. Namun bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
***
New message: from 085 729 888 ***
_Assalamu’alaikum, Ukhti.. semoga malam ini engkau senantiasa diberi kemudahan dan kelancaran untuk mengerjakan tugas-tugas dan praktikum yang menggunung. Semangad! Do’aku untukmu selalu, Wassalam ** Mr. Bee**_
Reva hanya mengernyitkan dahi membaca SMS dari nomor tak dikenal itu. Sedikit heran, namun tak menanggapi sedikitpun. Hati dan pikirannya lebih disibukkan oleh rumus-rumus yang harus diselesaikannya segera.
“Ah! Orang iseng. Mr. Bee?? Ih..ngaco!” omelnya sambil melemparkan HP ke tempat tidurnya setelah me non aktifkan.
Sementara di kamar kos sebelahnya, Hilya tengah tersenyum-senyum membaca SMS dari nomor tak dikenal, mengaku bernama Rangga.
New message: from 085 729 123 ***  : _Hai. Aku Rangga. Apakah engkau Cinta?_
Hilya yang mahasiswa baru itu iseng menaggapi.
_Yep! Gwe Cinta. So what?!_
085 729 123 *** : _Cinta, apakah engkau menyimpan bom?_
_Kok tau?_ balas Hilya meniru gombalan yang sedang ngetrend, masih dengan bibir sesekali tersenyum
 085 729 123 ***:_karena cinta membuat hatiku meledak-ledak bahagia_
_ah!! Gombal lu! Biasa aja kali!_ sambung Hilya lebih bersemangat
085 729 123***:_ bagiku, yang biasa itu menjadi RUARR biasa jika bersamamu_
_ahahahaha dasar!_  tapi ternyata Hilya tak bisa membalas SMS terkahir itu karena pulsanya telah habis untuk paket internet. Dengan wajah kesal ia pun melanjutkan kembali membaca novel picisan yang dipinjamnya dari teman sekelas.
***
Pukul 03.00 dini hari. Reva terjaga karena bunyi alarm yang dinyalakannya. Sejurus kemudian bunyi ‘klik’ menaandai SMS masuk.
New message: from 085 729 888 *** _ Rembulan….. dilangit hatiku, menyalah engkau selalu, temani kemana mesti ku pergi mencari tempat kita tuju. Do’akanlah ‘ku di shalat malammu, pelita perjalananku… **Mr.Bee**_
Lagi-lagi ia hanya mengernyitkan dahi dan dengan cuek kembali mematikan HP lalu bergegas bangun untuk mengambil air wudhu dan menunaikan shalat malam.
Sambil berjalan mengambil air wudhu, Reva menyempatkan diri membangunkan adik-adik kosnya untuk shalat malam. Pintu kamar Hilya yang pertama kali ia ketuk.
“De.. De Hilya, bangun De, shalat yuk!”
“Iya Kak! Hilya dah bangun dari tadi!” jawabnya ketus. Memang, Hilya telah terbangun sejak 15 menit yang lalu demi sebuah SMS yang datang dari si pengirim misterius mengaku bernama Rangga.
Rangga: _Cinta… bangunlah, ayo shalat malam bersamaku_
Hilya hanya membaca SMS itu tanpa bisa membalasnya. Hhfff… gerutunya pelan lalu keluar mencari teman kos yang lain yang berjualan pulsa. 5 menit kemudian ia telah asyik kembali saling berbalas SMS dengan Rangga.
_memangnya tau apa kau tentang shalat malam?_
Rangga: _Sangat tahu. Dulu aku sering melakukannya_
_sekarang?_
Rangga: _masih ingin.. asal bersamamu, cinta_
_ogah! Shalat aja sendiri!_
Rangga: _tepi bersamamu lebih indah_ dan terus..terus.. berbalas hingga Hilya tak mendengar kumandang adzan subuh dari masjid terdekat.
“Dik Hilya, Ayo dik, jama’ah shalat subuh..” ajak Reva.
“ya kak.. sebentar…”
Setelah shalat subuh, Hilya mengurung diri di dalam kamar, bolos dari agenda rutin ba’da subuh meski teman-teman dan kakak kos yang lain telah mengingatkannya.
***
Pagi beranjak menepi, aktivitas di kompleks kos mahasiswa selalu berputar seperti sebuah roll film yang ditayangkan berulang-ulang. sebagian menunaikan shalat subuh, sebagian lagi masih asyik di dunia mimpi. Sebagian mulai antri di depan kamar mandi, sebagian lagi bermuka kusut karena PR semalam tak mampu terselesaikan. Di kompleks sebelah tak kalah ramai oleh jerit kalut masakan gosong, atau bahkan teriakan-teriakan karena kehabisan air di kamar mandi. Di sudut yang lain khusyu’ para hamba mengawali hari dengan dzikir.
Tapi roll film yang biasanya berputar sama itu hari ini harus berputar menuju takdirNya yang lain. Seorang hamba yang biasanya telah bersemangat menuju kampus sambil berjalan kaki dengan riang; kali ini masih menggayutkan kepalanya di atas kasur. Wajahnya kusut masai seolah telah kehilangan ruh dan harapan masa depan.
Dunianya telah berputar sekarang. Rodanya tengah berada pada medan gelap yang dahulu tak pernah terbayangkan untuk sampai di sana; lingkaran hitam yang bermuara pada satu titik bernama kesedihan. Pun seperti lagu-lagu dan roman picisan, patah hati membuatnya kehilangan kendali bahkan atas dirinya sendiri. Yang diinginnya kini adalah menunjukkan taring, mengabarkan kepada dunia bahwa dia tidak seharusnya mendapat perlakuan seperti itu. Keinginan untuk membalas luka hatinya telah seiring dengan helaan nafasnya; menyatu.
Tanpa meninggalkan tempat tidurnya, ia meraih android dan sebuah HP butut. Dibukanya inbox SMS dan membalas SMS-SMS yang masuk. Sesekali ia tersenyum sinis penuh pongah. Namun beberapa SMS yang tak terbalas dari sebuah nama membuatnya bertambah kesal.
“ARRRRGGHHH!!! Karena dia lah aku melakukan semua ini! Kenapa dia tak juga menanggapi??!!!” teriaknya seraya membanting HPnya, lalu menggelosor di samping dipan. Membiarkan rambutnya yang kusut masai dipermainkan angin. Membiarkan hatinya yang seakan mati.
***
New message: from 085 729 888 *** : _Bidadari syurgaku, apa kabarmu disitu? Aku menantikanmu dalam diamku dan berharap memilikimu, bersanding denangmu hingga bertemu engkau kembali di SyurgaNya_
“Hilya, tahu no ini ga? Tolong dicek ya?”
“Mana Kak Reva? Diisengin orang ya?”
Reva hanya membalas dengan senyum. Sejurus kemudian Hilya menggelengkan kepala tanda ia pun tak mengenal pemilik nomor HP yang dibacakan Reva.
Reva tak ingin memikirkan SMS-SMS yang berjejalan masuk ke HPnya. Herannya, tidak ada yang mengenal nomor asing itu, tapi dia mengenal setiap aktivitas Reva. Sangat mengenal bahkan, seolah teman yang sangat dekat. Namun sebuah nama yang tiba-tiba terlintas di kepalanya membuatnya menaruh curuga kepada seseorang. Kejadian sebulan yang lalu kembali berpusar di kepalanya.
“Maaf, Akhi… saya tidak bisa menerima”. Jawab Reva mantap. Saat itu mereka sedang berada di mushola kampus, Reva hanya ditemani oleh Hasna, sahabatnya.
“Kenapa ukh?” suara yang muncul dari seberang hijab itu menyiratkan kekecewaan
“Saya belum siap akhi, afwan. Semoga tidak menjadikan ikatan ukhuwah diantara kita menjadi rusak. Mohon maaf, saya pamit dulu. Assalamu’alaikum..”. Reva bergegas meninggalkan mushola. Tak terdengar balasan salam dari sana. Hanya terlihat seseorang yang melangkah gontai, meninggalkan luka dan dendam bersarang di hati.
“Allah… jika memang hal itu yang membuatku mendapatkan terror SMS demi SMS itu… semoga Engkau memberikan jalan terbaik kepada kami… jika penyebabnya adalah karena penolakanku padanya, semoga Engkau memercikkan keikhlasan dalam hatinya. Sungguh, aku menolak waktu itu karena belum siap mendapatkan amanah lebih dariMU. Yaa Rabb… maafkan aku jika aku mendahului kuasaMu terhadapku… hamba hanya memohon yang terbaik dariMu….” Rintih Reva dalam do’a dan tangis di sepertiga malam.
***
“Kak… heran deh! sekarang kak Desta jadi jarang terlihat di masjid ya? Di kampus juga ngga keliatan, dulu kan aktif banget,,, ” tiba-tiba Hilya menyebut nama yang beberapa hari ini menghantui Reva. Mereka tengah berjalan pulang dari kampus usai rapat organisasi.
“Kakak juga kurang tahu dik, HPnya tidak aktif. Teman-teman ikhwan sudah berusaha menghubunginya juga”.
“Oia kak.. Hilya juga mau minta maaf… waktu itu Hilya banyak SMS nggak bermanfaat sama orang yang ngga dikenal. Dia banyak menggombal dan Hilya nanggepin. Sampe Hilya jadi takut sendiri… takut kalau yang SMS itu ternyata psikopat ayo apa.. trus, jadi boros pulsa juga.. maaf ya kak..”
“Hm.. Alhamdulillah kalo Hilya sudah mendapatkan pelajaran dari hal itu. Tapi nggak usah minta maaf sama Kak Reva.. “
“Baiklah kak.. jangan pernah bosan mengingatkan Hilya ya Kak..”
“Siap, bos!” jawab Reva sambil menahan gelak tawa.  
Di depan kos, tergeletak sebuah amplop kecil warna biru dengan tulisan _Reva_ di atasnya.
Dengan kening berkerut Reva membukanya dan sesaat tertegun, tak mampu berkata-kata. Hanya menyelipkan do’a semoga Allah selalu menjaganya..

_Maafkan atas segala yang kulakukan. Pun atas SMS-SMS yang mungkin melukaimu. Mulai saat ini, aku tak ingin lagi menemuimu apalagi menganggumu. Selamat tinggal. Desta Rangga Aditya **Mr. Bee**_ 


_Wonosobo, September 2012_

BELAJAR MENGHARGAI ORANG LAIN


BELAJAR MENGHARGAI ORANG LAIN


Terus.. gue harus bilang ‘WOW’ gitu???!!

Barangkali ungkapan tersebut di atas tak asing lagi di telinga kita, terlebih para remaja dan generasi muda yang aktif bersosialisasi melalui jaringan sosial semacam facebook dan twitter. Ungkapan ini menjadi lebih popular setelah digunakan dalam sebuah iklan operator seluler; berkembang melalui komunikasi nirkabel dan menjadi pembicaraan dimana-mana, bahkan menjadi awam dipakai oleh semua orang tak terkecuali anak usia SD.

Ungkapan tersebut lebih banyak dipakai untuk bercanda, namun karena penggunaannya yang terus menerus dan berulang-ulang, maka seolah sudah menjadi kebiasaaan bagi seseorang untuk menggunakannya. Sebagaimana kata-kata atau ungkapan yang lain yang menjadi popular karena iklan atau karena penggunaannya marak di dunia maya. Kebiasaan penggunaan tersebut menjadi kebiasaan juga di dunia nyata.

Namun pernahkah terfikir bahwa lama-kelamaan karena terlalu sering digunakan oleh banyak orang, ungkapan-ungkapan semacam itu menjadi lazim digunakan, bahkan ketika dalam posisi formal, bukan bercanda. Lalu pernahkah terfikir bagaimana ketika berada dalam posisi sebagai orang yang mendapat ungkapan seperti itu?

Misalkan suatu saat kita mendapatkan anugerah dari Allah, lalu ingin membagi ungkapan syukur dan kabar gembira kepada orang lain namun orang yang kita beri kabar menjawab dengan jawaban ‘terus aku harus bilang WOW gitu?!’  apa yang dirasakan? Sakit hati mungkin, karena muncul perasaan tidak dihormati atau tidak dihargai oleh orang lain. Atau mungkin ketika seseorang ingin menceritakan kisah sedihnya kepada seorang sahabat tetapi jawabannya adalah ungkapan tadi? Yang ada, hanya akan menambah sedih dan sakit hati.

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Salam bersabda, yang artinya: “Bukanlah termasuk golongan kami siapa saja yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan mengenal hak orang ‘alim kita.” (HR Ahmad dan Hakim, dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 4319)

Rasulullah pun telah jauh-jauh mengajarkan kepada kita untuk menghormati dan menghargai orang lain terlebih dalam perkataan dan perlakuan.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)
Bisa jadi kaum muda menggunakan ungkapan seperti itu hanya untuk mendapat predikat ‘anak gaul’; bukan karena hati nuraninya bahkan terkadang sama sekali tidak memahami arti sebenarnya, hanya mengikuti trend yang berkembang. Hal ini lah yang perlu diwaspadai oleh setiap orang. Kebiasaan meniru tersebut jika sudah melekat dalam pola hidup seseorang akan sangat mudah untuk diarahkan terhadap suatu hal.

Belajar menghargai orang lain bisa dilakukan melalaui hal-hal kecil seperti:
Pertama, Mendengarkan namun tidak sekedar mendengar; maksudnya adalah berusaha untuk memahami apa yang disampaikan oleh lawan bicara kita. Mendengarkannya dengan seksama ketika bicara dan fokus. Terkadang beberapa orang hanya ingin didengarkan dengan baik.  

Kedua, menganggapi ucapannya dengan perkataan yang baik. Termasuk dalam hal ini adalah tidak menggnakan kalimat/ungkapan yang beresiko tinggi untuk membuat lawan bicara sakit hati.

Ketiga, empati;  Mencoba membandingkan dengan diri kita sendiri ketika berada dalam posisi orang lain. Seperti contoh jika kita tidak mau dicubit maka jangan mencubit orang lain karena rasanya sakit; jika ingin didengarkan orang lain maka belajar mendengarkan, jika ingin dihormati maka menghormati orang lain.

 Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).

Mau mengasihi orang lain atau tidak? Mau menghormati atau tidak?  Semua tergantung pada diri kita sendiri. Semoga kita menjadi orang yang lebih selektif untuk menyaring input-input yang masuk ke dalam hati dan fikiran kita, sehingga kita menjadi orang yang selalu bisa menghormati dan menyayangi orang lain. Because we can’t life alone without somebody else. (10/12).


Jumat, 28 September 2012

Sepotong Mangga, Sepenuh Cinta


Sepotong Mangga, Sepenuh Cinta

Sahabat, Pernahkah kau pulang ke rumah setelah seharian penuh berkutat dengan aktivitas yang melelahkan, lalu begitu engkau sampai orang-orang yang engkau kasihi menyambutmu dengah hangat. Ayah/ibu, kakak/adik dengan senyum ceria mereka berucap salam dan menyalamimu… lalu salah satu diantara mereka menyorongkan sepotong mangga ataupun sekerat roti untukmu.

“ini, spesial untukmu.. yang lain sudah cukup berbagi”

Subhanallah… bisa saja lelah yang kau rasa semenjak siang menguap begitu saja, berganti menjadi senyum merekah dan hati yang mengahangat.

 Lalu, apalagi yang menjadikan hatimu galau berkepanjangan? Jika engkau dikelilingi orang-orang yang menyayangi. Mereka lebih berharga dari harta yang kau kumpulkan setiap detiknya, dan mereka lebih bermakna dari pacar mungkin, yang bisa jadi engkau memikirkan tapi ternyata tak sedetik pun ia memikirkanmu.

Sahabat, lewat sepotong mangga, atau sekerat roti, atau segelas teh…. Ada sepenuh cinta di dalamnya.

Mari bersyukur, apapun kondisi yang Allah berikan kepada keluarga kita… 

_jum’ah Mubarak_



Rabu, 26 September 2012

My Dreams.. One by One it's coming true.. (Antologi ku)

Alhadmulillah.... mimpi-mimpi kecilku mulai berwujud nyata..
Thank to Allah..




Antologi pertama: RESOLUSI HEBATKU (Leutikaprio), terbit Februari 2012



Antologi Ke-2, Ramadhan di Rantau (RDR #2), Penerbit Harfeey, terbit Juli 2012


Antologi Ke-3, 'Surat Cinta Untuk Murobbi (SCUM #2), dalam proses penerbitan


Antologi ke-4

The Formula of Charity (Penerbit Harfeey)

ke-5

Akhirnya Tulisanku Terbit Juga (GP, 2012)

ke-6,


7, 8, 9 (Sedang menunggu proses terbit)
dst

Buku solo, 
dst


SEMANGAT MENULIS..... Wahda Khadija Salsabiila