Rabu, 19 Desember 2012

SENYUM DOKTER KECIL

oleh Wahda Khadija Salsabiila

Langkah-langkah kaki-kaki kecil tak beralas itu semakin cepat berpacu dengan waktu seolah tak ingin kehilangan sedetik pun moment.  Hari ini mereka akan menyambut kedatangan mahasiswa dari UGM yang akan mengadakan KKN selama sebulan di Desa Wonokromo, sebuah Desa di kabupaten Wonosobo.

Kabut yang mulai turun sore itu tak membuat semangat mereka menurun. Udara yang menyergap dingin tak membuat langkah mereka terhenti. Rasa penasaran yang muncul sejak dua pekan yang lalu saat Pak guru di kelas menyampaikan kedatangan mahasiswa KKN semakin memuncak. Sungguh, wajah-wajah polos itu begitu antusias.

Pukul 16.00, balai Desa telah ramai oleh para pejabat desa, warga desa, dan anak-anak sekolah; mereka telah menunggu sejak seperempat jam yang lalu, meskipun mahasiswa KKN dijadwalkan akan tiba pukul 16.30.

“Mereka datang!” teriak seseorang dari luar. Akhirnya rasa penasaran mereka terbalaskan. Para mahasiswa itu memperkanalkan diri Ada Kak Fitri yang berjilbab lebar, Kak Dwi yang cantik dan berambut pendek lurus, Kak Wayan yang Kocak, Kak Reza, Kak Adi, dan Kak Hakim.

Seorang anak perempuan siswa kelas 4 terdiam di tempat duduknya. Senyumnya mengembang menatap para mahasiswa yang berjajar di panggung. Sementara matanya bercahaya dan berkaca-kaca. Dalam hati ia berkata ‘aku ingin menjadi seperti mereka’.
***
“Adik-adik, besok kakak akan datang ke sekolah lagi, adik-adik kakak beri tugas untuk menggambar sikat gigi, yang gambarnya bagus kakak beri hadiah sikat gigi” kata kak Fitri di depan kelas.

Esoknya, seluruh penghuni kelas 4 membawa gambar terbaik mereka tak terkecuali Ririn, gadis kecil berkerudung itu telah terpikat oleh pesona yang dibawa para mahasiswa KKN. Sejak pertama melihat ia sangat terkagum-kagum.
“Bagus! Nah, sekarang Kakak akan memberikan hadiah untuk yang gambarnya paling bagus. Ririn, Melia, dan Yusuf. Silakan maju ke depan.”

Dengan senyum terkembang, gadis tanpa alas kaki itu mengambil hadiah berupa sikat gigi dari Kak Fitri, sikat gigi pertama yang khusus untuk dirinya karena selama ini ia dan keluarganya hanya memiliki satu sikat gigi yang kadang belum diganti hingga bulu-bulu sikatnya hampir habis.
“Hari ini  kita akan belajar tentang gigi dan mulut. Kak Fitri akan mencoba memeriksa mulut kalian.” Kata Kak Fitri saat Ririn dan Melia tengah belajar menyiapkan kompetisi dokter kecil.

Ririn terperangah, dalam hati ia sangat gundah karena menyadari giginya pasti banyak masalah.
“Ririn kenapa suka nutupin mulut kalau ketawa, hayo?” selidik Kak Fitri. Yang ditanya malah semakin rapat menutupi mulutnya. Ya, kata Ibu dirumah, barisan gigi Ririn seperti jagung buluk karena ia jarang menggosok gigi.

Cekatan muslimah berjilbab itu menyiapkan alat-alat periksa giginya. Sejurus kemudian ia telah menguasai mulut Ririn dan dengan bantuan kaca mulutnya menelusuri satu persatu giginya hingga ke bagian terdalam.

“Ririn jarang sikat gigi ya?” cetus Kak Fitri tiba-tiba. Ririn mengangguk malu, tanpa menjawab. Kaca mulut dan senter masih belum selesai bergerilya di rongga mulutnya.
“Besok kita bersihkan gigi Ririn.” Lanjut Kak Fitri tegas.
***
Menunggu hari berganti seolah detik demi detik berjalan teramat lambat bagi Ririn. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Kak Fitri besok, tapi ia belum pernah melihat orang ‘operasi gigi’ atau sejenisnya. Bayangan-bayangan berbagai alat yang akan dipakai dan rasa sakit membuatnya tak bisa memejamkan mata hingga larut.

Esoknya ia memakai pakaian terbaiknya untuk menghadapi hari yang bisa jadi menjadi hari bersejarah bagi giginya itu. terselip juga harapan-harapannya jika nanti giginya bisa dibersihkan.

Kak Fitri memintanya duduk di kursi, bersandar di kursi beralas bantal yang sengaja diletakkan di sana agar punggungnya tidak sakit. Ia tak begitu memperhatikan apa yang dilakukan kak Fitri, hanya mengikuti apa yang diperintahkan kepadanya. Mulai dari berkumur dengan cairan berwarna merah, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menahan rasa ngilu ketika dengan alat yang bernama entah apa itu Kak Fitri menggosok karang giginya.

Hampir dua jam eksekusi gigi itu berjalan, Melia sahabat sekaligus rivalnya di kelas tetap setia menemani Ririn, sesekali bertanya ini itu kepada Kak Fitri.
***
Kompetisi dokter kecil yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ririn telah meminjam sepatu dari tetangganya untuk hari istimewa yang dinanti itu. pakaian serba putih melakat di tubuhnya, terlihat manis meski kulitnya yang coklat terlihat semakin coklat.
“Kak, Ririn berjanji akan memberikan yang terbaik. Apapun hasilnya nanti, Ririn akan berusaha.” Ucap Ririn bersemangat di hadapan Kakak-kakak mahasiswa.
“Bagus! Kita harus melakukan yang terbaik. Semangat!” sambut Kak Fitri mengobarkan lagi semangatnya.

Mereka membuktikan perkataannya. Ririn yang menjadi juru bicara kelompoknya didampingi Melia dan Yusuf sigap menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan. Babak pertama mereka mampu memimpin diantara dua kontingen lainnya. Namun, saat babak rebutan berlangsung, beberapa kali mereka tertinggal sedetik dengan kelompok lain. Akibatnya, soal yang bisa mereka jawab harus direlakan terjawab oleh kelompok lain.

“Sudahlah, kalian sudah memberikan yang terbaik. Kakak semua bangga dengan kalian.” Hibur Kak Fitri lembut saat dengan wajah kuyu mereka kembali ke tempat duduk. Kecewa, itu yang terbayang dalam wajah mereka. Mereka telah gagal menuju babak final hanya karena selisih 1 angka.

Satu persatu mahasiswa KKN itu menghibur Ririn, ia yang paling kecewa saat itu. perlahan ia kembali tersenyum meski teramat tipis. tiba-tiba Kak Fitri duduk di sebelahnya dan dengan lembut merangkul pundaknya, menyalurkan energi sekaligus mengucapkan terimakasih dengan sangat tulus.

Mata gadis itu berkaca-kaca demi mendapatkan perhatian yang begitu dalam. Kepercayaan dirinya kembali muncul. Kepercayaan diri yang dibangunnya beberapa pekan terakhir setelah giginya menjadi seputih susu kembali runtuh karena kegagalan sesaat di kompetisi itu. Namun dalam hati ia kembali bertekad untuk menumbuhkan rasa itu, ia tak ingin lagi mengecewakan orang-orang terkasihnya, dan orang-orang yang telah berbuat banyak untuknya.

“Kak, aku ingin menjadi dokter gigi seperti Kak Fitri.” Ucap Ririn mantap.

Dalam hati ia bertekad menjadi seorang dokter agar bisa bermanfaat untuk banyak orang, dan menjadi seperti mahasiswa KKN di kampungnya, orang-orang terpelajar yang peduli dan tidak tinggi hati.

Impiannya telah ia sematkan dalam-dalam di ruang hatinya, diaminkan oleh para malaikat yang mengelilinginya, dan melesat jauh hingga ‘ArsyNya.  Meskipun ia tak pernah tahu alur cerita seperti apa yang telah Allah skenariokan untuknya, meskipun ia tak pernah mengerti takdir mana yang telah Allah gariskan dalam hidupnya.
Senyum itu pertanda ia telah menemukan bahagia.


*based on a true story, kisah ini pernah diikutkan sebuah lomba tapi belum lolos
special to Kak Fitri, wherever U are, thanks a lot for all u’r job. Kakak… aku masih mengingatmu hingga hari ini, masih ingatkah engkau? Semoga Allah selalu menjagamu dimanapun. 

Tahun 1997 (atau mungkin 1998, agak lupa waktu itu aku kelas 4 SD), mahasiswa KKN dari UGM datang ke Desaku dan mengadakan berbagai macam kegiatan. masih tersimpan rapi kenangan bersama kak Fitri (yang bahkan tak kuketahui nama lengkapnya) aku hanya tahu ia berasal dari Aceh. Jilbab lebarnya membuatku kagum.

Antologi ke 5: MELUPAKAN

Melupakan #2
-Bermasalah dengan waktu-

Genre : Kumpulan cerpen remaja
Penulis : Boneka Lilin et Boliners
Editor : Boneka Lilin
Layout : Boneka Lilin
Design Cover : Ary Hansamu Harfeey
ISBN :
Tebal : 148 Hlm; 14,8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp 42.000,-





Sinopsis

Dipaksa untuk melupakan seseorang yang sudah seperti bagian dari diri yang lain itu, ibarat memisahkan permen karet yang tersangkut pada rambut. Sulit untuk melepaskannya satu-satu, dan tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar. Namun untuk mempersingkatnya pun tidak terbilang mudah, karena sama sulitnya saat dihadapkan pada kenyataan bahwa rambut yang disayang harus dipangkas sebanyak yang terko
ntaminasi, agar bersih hingga sempurna dari partikel permen karet paling terkecil sekalipun.

Andai saja melupakanmu semudah mendung yang luruh menjadi hujan. Tapi Tuhan telah menakdirkan titik di antara kita, dan segalanya sudah cukup untuk menghentikan usahaku mengubah titik itu menjadi koma.

Melupakanmu hanya masalah waktu. Cepat atau lambat, aku yakin mampu jika mau.
***
Kontributor :
Boneka Lilin, Baim, Titin Indriati, Lisa Damayanti, Rhie, Wahda Khadija Salsabiila, Arifa Rahma, Peliana Scania, Niknik Nursifa, Sepri Ayu Flow, Tanti Fitriantini, Kirana Octaviana Putri Susilo Wati, Dewi Iris, Anggun Sugiarti, Kharisma Widyastuti, Dwi Wahyuniati, Yuli Maulidya, Rini Nurul Hidayah, Febri Nina Fath Ratu, Fathi ARain, Diyar Oksana, Yussy Dian Pramita, Tyssa Kurniaty, Lina, Teny Noor Fratiwi, Noermayani, Nur Dwi Ratnasari Ningtyas, Tri Utami Raudani, Riska Putri, Erfani Tri Mardiani, Nieda Haromain, Lin Hana FAM879M, Putri Rahayu.
***
Kumpulan cerpen keren yang bisa bikin kamu bilang "WOW" ini bisa dipesan melalui para kontributor,  Wahda khadija Salsabiila (085 729 021 512)


Senin, 17 Desember 2012

_Sertifikat Menulis_




Antologi ke-3 ku yang sudah diterbitkan_ The Formula of Charity 1 : 1 = 11The Formula of Charity 1 : 1 = 11


The Formula of Charity 1 : 1 = 11
-Dia memberi 10, saat aku berbagi 1-


Genre : Kumpulan FTS inspiratif tentang beramal
Penulis : Boneka Lilin et Boliners
Editor : Boneka Lilin

Design Cover : Ary Hansamu Harfeey
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-18917-9-7
Tebal : 166 Hlm; 14,8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp40.000,-



SINOPSIS

Tidak pernah ada dalam sejarahnya orang menjadi miskin karena beramal. Dengan beramal, justru Tuhan akan semakin melipatgandakan rizky setelah proses "pencucian" harta tersebut.

Satu hal yang perlu dijadikan prinsip, "Jangan menunggu kaya untuk beramal, tapi beramallah niscaya kamu menjadi kaya."

51 kisah nyata penuh hikmah terangkum tentang keajaiban dari rumus beramal. Di mana ketika kita berbagi 1, maka Tuhan akan memberi 10.

***

Penulis Kontributor :

Boneka Lilin, Chinglai Li, Ardinal, Silviani Yunistia, Suci Fitriyanti Nur Amandasari, Elrifa Wiwid, Muhammad, Nelly Nezza, Neli Rosdiana, Zahara Putri, Al Khanza Demolisher, Sofiyah Fu’adah, Mardiana Susanti, Mohamad Misbah, Hady Kristian, Nurdian Dhee Muttaqin, Sri Juli Astuti, Yeyen Septia Anggraini, Anisa Wijayanti, Rezita Agnesia Siregar, Cici N. Nandi, Putri An-Nissa Nailhatul Izzah, May Valentine, Meliana Levina Prasetyo, Anzil Laila, Wisandria Notisa, Kania Poetry, Wahda Khadija Salsabiila, Nai Azura, Ratna Eka Sari, Rin Agustia Nur Maulida, Indah Permatasari, Yussy Dian Pramita, Tomy M. Saragih, Ghiyatsableng, Yanita Widjayanti, Askar Marlindo, Murni Oktarina, Nenny Makmun, Abdushabur Rasyid Ridha, Rizki Alawiya, Wahyu Widyaningrum, Andik Chefasa, eLKa Nisa Mahdi, Leni Sundari, Lateeva Martufemi, Vita Ayu Kusuma Dewi, Nai Saras, Heru Patria, Yuni Ayu Amida, Yuni Retnowati.

***

Buku inspiratif ini bisa dipesan melalui para penulis kontributor, inbox FB Wahda Khadija Salsabiila  atau sms ke 085729021512.  Mari berbagi hikmah tentang sedekah. :)




Sabtu, 01 Desember 2012

SELAMAT JALAN, MBAH UTI


KAMIS. 8 NOVEMBER 2012
Pagi hari menjelang berangkat kerja, mendapati SMS masuk dari bulik Umi.
_Arin, simbah sehat? Simbah mau datang ke sini kan, Ada pengajian?_
Aku bergegas menyampaikan ke simbah uti ku perihal SMS dari putrid tercintanya itu.
“simbah pengen ke sana, kalau sehat, kalau ada yang nagnterin”
Aku pun menyampaikan kembali kepada bulik Umi via SMS.
“apa dianterin naik motor saja?” kali ini ibuku yang urun suara. Tapi simbah menolak dengan mengatakan tidak berani naik motor jauh-jauh, takut tidak kuat.
Ibu dan aku sama-sama terdiam, bingung dengan pikiran masing-masing bagaimana caranya mengantarkan simbah ke sana karena beberapa hari ini memang bukan jadwalku libur.

JUM’AT, 9 NOVEMBER 2012
Pagi-pagi simbah kembali bertanya,
“Besok libur kan? Besok anterin simbah ke tempat bulik ya, siangan aja”
“Tapi Arina besok siang mau kondangan, Mbah. Kalau pagi saja bagaimana?” dengan sedikit berat kujawab pertanyaannya.
“Yasudah, besok pagi nggak apa-apa yang penting kamu nemenin simbah”
“Nggih, Mbah.. insyaAllah, jawabku meyakinkan
Dan saat aku pulang ke rumah menjelang magrib setelah seharian bekerja dan mengajar les di panti asuhan, aku melihat simbah uti ku duduk di kursi di depan TV, seperti biasa ia akan menyapaku ketika aku pulang ke rumah.
Aku pun kembali disibukkan dengan agenda-agendaku menyiapkan mentoring bersama adik-adik SMP esok hari juga menyelesaikan beberapa tulisan karena dikejar deadline.
Masih kudengar batuk-batuk mbah uti yang besar dan sesekali keluhannya karena terlalu lama batuk tak sembuh-sembuh. Masih pula kudengar ia mengeluh tak bisa banyak membaca al-Qur’an karena sering buang angin terlebih ketika batuk. Alhasil ia harus bolak-balik mengambil air wudhu agar bisa tilawah, sementara di Wonosobo yang dingin itu teramat berat rasanya untuk berkali-kali mengamboil air wudlu, terlebih kondisi simbah sedang kurang sehat.


SABTU, 10 NOVEMBER 2012
Pukul 6 pagi, simbah mulai berkemas, meminjam tas milikku yang sedang untuk tempat mambawa pakaian ganti selama beberapa hari menginap di rumah bulik. Ia pun telah menitipkan uang yang rutin ia berikan kepada tetangga yang membutuhkan, sebagian dari gaji pensiunnya.
Pukul 7 pagi ia telah siap berangkat tapi aku belumlah usai mencuci pakaian yang pagi ini cukup menumpuk. Ia pun menungguku sembari duduk di depan TV, menonton acara pagi yang mungkin sebenarnya kurang menarik untuknya.
Pukul 9 tepat aku telah siap berangkat. Kami berangkat menumpang ojek dari depan rumah, aku yang membawakan tas tangan dan tas pakaiannya. Sampai  di jawar kami pun mealnjtkan dengan menumpang angkot hingga perempatan hotel kresna, menyambung lagi dengan angkot yang lain. Di dalam angkot kami bertemu dengan tetangga desa (yang meskipun tidak kenal tetapi bisa ngobrol enak dengan kami).
Turun dari angkot kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek kembali. Maklum, simbah sudah tidak kuat untuk berjalan kaki.
Saat menuju rumah bulik, kami pun berpapasan dengan tetangga bulik yang kami kenal dan sejenak berbasa-basi.
Kurang lebih pukul 10 sampai di rumah bulik, momen yang cukup membahagiaan bulik karena akhirnya simbah bisa datang.
Saat itu bulik sedang sibuk menyiapkan makanan untuk acara pengajian hari ahad besok. Aku pun belajar untuk membuat kue lapis.
Pukul 11 siang aku pun harus pergi untuk menghadiri walimatul ‘urs seorang sahabat, maka tanpa menunggu kue matang aku pun pamitan. Tak ada yang khusus disampaikan simbah waktu itu. hanya ucapan seperti biasanya, ‘hati-hati’.
Setelah menghadiri acara walimah, bersama sahabatku menjenguk seorang kenalan yang sakit di RSI. Kebetulan tempat walimah dan RSi berdekatan sehingga kami putuskan untuk langsung ke sana. Subhanallah… siang itu mendapatkan pelajaran tentang beratnya perjuangan seorang ibu: melahirkan. Sang ibu yang telah berhasil melalui masa sulit itu masih harus dirawat karena sakit yang lain, bayinya pun sakit, alhasil mereka harus berpisah selama beberapa hari. Subhanallah.. semoga Allah membalas perjuanganmu itu dengan yang lebih baik, kak.
Keluar dari RSI, hujan mulai menderas tapi mau tak mau kami harus melanjutkan agenda seperti yang telah direncanakan: menengok sahabat yang lain yang juga baru melahirkan.
Subhanallah… hari yang benar-benar padat karena aku pun masih harus mengisi mentoring anak-anak SMP. But bismillah n enjoy it! Niatkan untuk ibadah, insyaAllah.
Hari ahad esok aku harus berangkat ke Semarang mewakili rakorwil santika Jateng. Aku pun menyiapkan bekal dan perlengkapan yang harus ku bawa.  Tepat ketika adzan maghrib berkumandang aku telah sampai ke mbali dirumah. Alhamdulillah…
Ba’da isya, aku masih melanjutkan menulis beberapa tulisan yang menjelang deadline, namun ibu ku tercinta mengingatkan aku untuk segera tidur karena besok akan pergi pagi-pagi ba’da shubuh. Aku mengiyakan sarannya, sekitar jam 11 malam aku pun terlelap.

AHAD, 02.xx
Aku terbangun oleh suara keras yang berasal dari paklik. Orang yang membuatku berfirasat buruk karena pagi-pagi telah sampai di rumah.
‘ada apa ya? Ko paklik pagi-pagi buta kesini?’ batinku.
Aku pun terbangun dan bergegas meraih HP. Terlihat sebuah miscall dari kakak sepupuku, 1 SMS pemberitahuan ada yang menghubungi (mungkin karena tidak ada sinyal kadi tidak bisa masuk), dan sebuah SMS dari adikku yang tengah berada di Semarang.
‘Mba. Kata mas shonef simbah meninggal di rumah bulik? Bener ga?’  
Serasa mendapati petir di siang bolong, tak ada hujan tak ada mendung. Buru-buru melompat dari tempat tidur sambil berteriak mencari bapak dan ma’e yang juga tengah kalut mendengar berita itu.
“sudah, tenang. Sekarang kita nyiapin tempat sama nyari pinjaman mobil untuk menjemput jenazah simbah, kata bulik tadi minta kita yang menjemput biar disana ngga rame, ditempat bulik kan ada pengajian hari ini” kata bapak menenagkan kami. Tapi aku masih tak bisa tenang, sibuk memikirkan dan flashback aktivitasku selama 24 jam terakhir. Hm.. simbah, semudah itu kau berpulang..
“Rin, jangan lupa izin acara ke Semarang, katanya mau berangkat jam setengah lima”. Kata bapak mengingatkan. Aku pun menghubungi beberapa orang yang bertanggung jawab di agenda ke semarang.
Detik-detik berlalu dengan teramat lambat. Paklik dan adik sepupuku bersama bapak mencari pinjaman mobil tapi tak juga mendapatkan. Tiba-tiba hujan turun teramat deras, akhirnya harus mengehntikan dulu sementara mencari pinjaman mobil sambil terus mengabari bulik karena kami belum dapat mobil. Komikasi menjadi lambat dan tersendat karena sinyalnya pun timbul tenggelam. Yaa Rabb.. mudahkanlah…
Menjelang pukul 4, salah satu sopir bisa dihubungi dan langsung bersiap. Aku telah membereskan tempat untuk jenazah simbah nanti, dan bergegas mengambil air wudhu.
Saat adzan subuh berkumandang dari masjid di dekat rumah, jenazah simbah sampai. Beberapa tetangga yang menyaksikan keramaian pun berdatangan mencari tahu apa yang terjadi. Semua terkaget mendengar kabar simbah putrid meninggal, terlebih beberapa orang yang melihat beliau keluar bersamaku.
Simbah… kulihat ia begitu teduh dalam senyum terakhirnya. Semoga engkau khusnul khatimah, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah, berkumpul kembali bersama simbah kakung yang telah mendahuluimu…
Dari bulik kudengar ajal simbah teramat singkat dan mudah. Waktu itu beliau bangun menjelang pukul 2 pagi untuk mengambil air wudhu dan shalat malam sebagaimana kebiasannya. Namun baru sampai di depan pintu kamar mandi ia terjatuh. Bulik yang mendengarnya pun bergegas mengejar dan membantu simbah untuk bangkit namun badan simbah sudah lemah. Mendapati kejadian itu bulik segera membimbing simbah untuk melafalkan ‘Allah..Allah..Allah..’ dan tak lama kemudian simbah telah berpulang.
Subhanallah.. akhir yang singkat, dan ini pun menjadi pengingat untukku.
Terlabih saat pagi hari begitu banyak orang yang datang untuk mendo’akan simbah. Aku terharu… mungkin karena simbah begitu berarti buat mereka dan keberadaanya member manfaat untuk banyak orang sehingga ketika ia berpulang, banyak yang mendo’akan dan mengenangnya.
Selamat jalan simbah… semoga harum wangi syurga dan kesiur anginnya menyejukkanmu yang tengah beristirahat di alam kubur….
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiiha wa’fu ‘anha..
-Simbah Putri, in memoriam_