Sabtu, 30 Agustus 2014

'HANYA' TENTANG MENIKAH (PART 1: PROPOSAL NIKAH & TA’ARUF)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

MUQADDIMAH

”Dan diantara tanda-tanda (kebesaran) Nya lah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cecnderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. (Q.S Ar-Ruum: 21)
Pernikahan, adalah gerbang menuju pembentukan rumah tangga islami karena dari sanalah hubungan antara seorang laki-laki dengan perempuan menjadi ibadah, ada silaturrahim yang terikat erat antara keluarga laki-laki dan perempuan yang mungkin dulunya bukan keluarga sama sekali; bahkan mungkin ada penyatuan dua budaya, dua karakter, dll.
Menikah merupakan

Kamis, 28 Agustus 2014

The Power of Istighfar

Sore tadi habis melingkar nih guys! Alhamdulillah... dapat pencerahan. 
so far, makin menyenangkan berada di lingkaran cinta itu. meskipun nih ya.. kuakui belum benar-benar kenal sama teman-teman dugemku (baca: duduk gembira melingkar :) ).
insyaAllah sih selalu berusaha buat lebih kenal lagi, trus memahami, trus empati, trus jadilah kita benar2 saudara karena Allah.

Nah, ceritanya my Murobbi tadi ngasih pengantar soal indikasi keberhasilan kita meraih keutamaan di bulan Ramadhan dan menjadi pribadi yang taqwa.
Hm... kalo aku sih masih jauuuuuh kali ya dari predikat itu. secara... nggak kayak sahabat rasulullah yang sudah nyipain Ramadhan dari jauh-jauh hari... dari 6 bulan sebelum ramadhan datang. wow! ini baru namanya keren! kalo aku mah beberapa minggu sebelum Ramadhan, atau beberapa hari malah baru nyiapin seabrek-abreknya; itupun karena banyak temen yang ngingetin lewat fb ato sosmed yang lain. hiks.hiks. Apalagi kalau sahabat rasul itu menangis sedih waktu Ramadhan pergi ninggalin, lhah kalo kita malah seneng dapet angpau, pake baju-sepatu-jilbab baru, makan enak, dan seterusnya.

lanjut guys! kata beliau, ada beberapa indikasi orang yang bertaqwa, cekidot!
1. Dia akan selalu berkata jujur dan benar. kalau dalam bahasa keren di Alquran sih namanya Qoulan Syadidan.
2. Berupaya untuk selalu berteman dengan orang-orang shalih yang sebenarnya shalih
3. Senantiasa mengutamamakan ukhuwah islamiyah dan silaturrahim
4. Berupaya mencari harta yang halal

gampang ya sebenernya? cuma prakteknya belum tentu segampang kita mikir. 
apapun.. kita cuma bisa berusaha yang terbaik kan? yup! yukmari... ganbatte kudasai! 


oia, satu lagi nih... tadi didaulat buat baca renungan juga, dan kena banget di hati deh! intinya tentang obat dari segala macam permasalahan adalah ISTIGHFAR! 
nih.. dengan senang hati copast'in kesini artikelnya ;) 
Moga manfaat yak!

Istighfar Pembuka Pintu-pintu Langit

Kita teramat dimanja oleh Allah SWT. Sadarkah kita? Curahan kasihnya kepada kita tak tepermanai. Ia menggadang-gadang kehadiran kita di firdaus-Nya. Ya, ia merindukan kita.

Kala kita melesat jauh dari dekapannya, Ia sigap. Ayat-ayatnya segera berseru memanggil kita, sabda-sabda RasulNya akan lantang mengajak kita kembali.

Dan, kala kita terasuki dosa, ia memberikan penawar. Penawar yang sangat mujarab membersihkan ruhani kita dari gumpalan-gumpalan dosa. Penawar itu teracik dan terkemas cantik dalam kalimat-kalimat sakti “istighfar”.

Habib Umar bin Segaf as-Segaf, dalam karyanya, Tafrihul Qulub wa Tafrijul Kurub, mendedah keagungan istighfar dengan mengalirkan seuntai kalimat ringkas sebagai mukaddimah, “Istighfar adalah instrumen pemantik rizki”. Sudah barang tentu, kalimat ini multi tafsir. Dalam pandangan salaf sekaliber Habib Umar, kata “rizki” memuat berjuta makna, ada rizki ruhani, ada rizki ragawi. Wallahu a’lam.

Beliau kemudian melanjutkan kalamnya, “Kitabullah dan hadis-hadis Rasul SAW menyebutkan fadhilah-fadhilah istighfar berulang kali. Diantara fadhilahnya adalah melebur dosa-dosa, menetaskan jalan keluar dari pelbagai persoalan, dan menyingkirkan kegalauan serta kesumpekan dari dalam hati.”

“Memang, kesumpekan dan deraan persoalan, lazimnya berpangkal dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, seyogianya diobati dengan istighfar dan taubat yang tulus ikhlas. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa melazimi istighfar, maka untuknya, Allah memberikan kebahagiaan dari kemasyghulan, jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, dan Ia akan melimpahkan rizki kepadanya dengan cara-cara yang tak pernah diperhitungkannya.”

Seolah hendak menegaskan, Habib Umar menyebutkan lagi fadhilah istighfar, “Khasiat istighfar adalah menghapus dosa-dosa, memendam aib-aib, memperderas rizki, mengalirkan keselamatan pada diri dan harta, mempermudah capaian cita-cita, menyuburkan berkah pada harta, dan mendekatkan diri pada-Nya.”

“Logikanya, untuk menyucikan baju yang terciprat lumpur, kita bilas dengan sabun, bukan malah didekatkan pada asap-asap tungku. Pun demikian hati kita. Agar kian bersih dan molek, kita poles dengan istighfar, serta kita hindarkan dari lumuran-lumuran maksiat.”

“Dulu kala, seseorang mengadu kepada Imam Hasan Bashri mengenai kekeringan yang melanda negerinya. Sang Imam, dengan kearifannya, memberikan resep sederhana, “beristighfarlah!”. Lalu datang seorang lainnya. Kali ini ia mengeluhkan kefakiran yang terus menggelayutinya. Sang imam memperlakukannya sama dengan yang pertama. Ia memberikan resep istighfar kepadanya. Lalu datanglah orang ketiga. Yang terakhir ini menyambat nestapa bahtera rumah tangganya karena tak kunjung dianugerahi buah hati. Sikap sang imam masih seperti sebelumnya. Ia memberikan resep istighfar. Kepada ketiga-tiganya, Imam Hasan memberikan obat yang sama, yakni istighfar, untuk problematika yang beragam. Ia juga menjelaskan dalil-dalil al-qur’an dan hadisnya kepada mereka.”

“Suatu waktu, kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, Umar bin al-Khattab tak mau tinggal diam. Ia segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan Umar seperti pada galibnya. Kali ini, ia, seorang diri, hanya melafalkan kalimat-kalimat istighfar.”

“Istighfar Umar bukan sembarang istighfar. Tapi istighfar yang penuh ijabah. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?”. Dengan enteng, Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit.”

Kalam-kalam Habib Umar benar adanya. Kita perlu memaknainya dengan bijak. Barangkali, berondongan musibah yang mendera tanah tumpah darah kita ini adalah getah dari perbuatan kita sendiri. Tinggal bagaimana kita menyikapi?

Sejatinya, kita membutuhkan figur Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Tapi, mengharap sosok Umar, di era seporak-poranda kini, ibarat kerdil merindukan bulan, Sia-sia saja. Jadi, alangkah layaknya bila kita mulai membudayakan taubat dan istighfar di tengah-tengah rutinitas kita. Mari kita basahi bibir-bibir kita dengan istighfar, dengan pengharapan, barangkali Allah SWT berkenan menyetarakan istighfar kolektif kita ini dengan sebiji istighfar Umar bin al-khattab. Astaghfirullah rabbal baraya, astaghfirullah minal khathaya.

*sumber: www.madinatulilmi.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Selasa, 26 Agustus 2014

EUFORIA MUDIK 1435: Dieng, Sikunir dan moment cinta kita (ciee)


pic by: belantaraindonesia.org

Siapa tak pernah mudik saat idulfitri tentunya ingin merasakan sensasi mudik mulai dari antri pesan tiket bagi yang mudik dengan kendaraan umum, sampai merasakan macet berjam-jam di jalan. Dulu semasa mahasiswa, mudik dan arus balik lebaran mau tak mau harus kulalui. Mulai dari perjalanan pulang ke Wonosobo dengan menumpang bis ekonomi dalam kondisi berdiri, berdesakan, bau keringat dan asap rokok, banyak pengamen dan penjual asongan, teriakan kernet yang minta penumpang bergeser meskipun hampir tak ada celah; dan seabrek kegaduhan lain di bis yang sudah berkarat dan suara mesinnya mengisyaratkan sudah saatnya ia dipensiunkan.

Tapi begitulah yang harus kualami, demi menghemat ongkos daripada naik bis patas yang armadanya pun hanya beberapa. Perjalanan mudik Semarang-Wonosobo yang normalnya bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam pun bisa sampai 5-6 jam, dengan berdiri sampai setengah perjaanan. Kembali ke Semarang pun tak jauh berbeda kondisinya, bahkan terkadang bisa lebih parah karena banyak calon pekerja dari desa yang akan berangkat ke Semarang.

Alhamdulillah, dua tahun terakhir mudik ke wonosobo bersama keluarga tak perlu lagi berdesakan di atas bis. Rasa syukur yang teramat dalam atas karunia ini. Tahun ini kami mudik bersama suami, anak, dan keluarga sahabat suami. perjalanan cukup lancar meski harus berjalan merayap perlahan. Kami sengaja memilih tanggal pertengahan liburan saat arus lalu lintas tak terlalu padat. Berangkat dari Semarang sekitar pukul 7.30, dengan perjalanan yang tidak terlalu cepat dan mampir warung makan serta mampir mertua teman kami di Temanggung. Alhasil kami sampai di Wonosobo hampir ashar. Alhamdulillah Hasna, bayi kami yang berusia 5 bulan selalu menikmati setiap perjalanan.

Seperti biasanya, saat mudik adalah saat yang selalu ditunggu oleh keluarga untuk berkumpul. Sebenarnya kami telah melewatkan satu moment pertemuan keluarga di Wonosobo karena acaranya berbarengan dengan pertemuan keluarga Semarang.

Namun, sambutannya tak kalah meriah (ciee), tentu saja karena mereka menanti cucu dan keponakannya yang lucu bin gemesin. Dan, agenda seharian pun harus dirumah karena semua ingin merubung dan menggendong si bayi imut itu. Padahal kami sudah berniat untuk segera silaturrahim ke tetangga dan saudara di sana.


Esok dan esoknya lagi agenda full silaturrahim ke keluarga dekat dan keluarga jauh. Subhanallah, senang bertemu banyak keluarga.

Senin, 4 Agustus 2014

Kami mengagendakan berwisata bersama keluarga ke Dieng. Sebenarnya sudah cukup bosan jalan-jalan ke Dieng. Sudah terlalu mainstream bagi warga asli Wonosobo yang kuliah di luar kota dan setiap pulang libur kuliah hampir pasti didaulat oleh teman-teman untuk menemani ke Dieng ;)

Tapi, demi rayuan suami yang katanya ‘ke Diengnya sudah biasa, tapi momentnya langka’ akhirnya luluh juga dan cukup bersemangat untuk jalan-jalan ke Dieng (lagi).

Sampai di Dieng kami belum menentukan tujuan ke obyek wisata yang mana, tapi akhirnya semua sepakat untuk mencoba menjelajah ke Sikunir.


                     telaga warna_pengilon

Yup! Berbekal seorang adik kami yang sudah pernah kesana kami mencoba mencari jalan tanpa bertanya orang lain lagi.

Taunya eh, kesasar! Ke tempat seperti lapangan dengan jalan sempit berbatu, berbau CM alias pupuk dari kotoran ayam. Haik! Rasanya wow! Naik mobil rasanya seperti naik kora-kora. Untung disana ada petani yang sedang mengurus lahan kentangnya. Jalan satu-satunya tentu saja berbalik arah melewati jalan yang sama. Ternyata WOW! Saat berbalik arah kami menemukan view yang sangat cantik dari jalan yang telaknya cukup tinggi: view telaga warna dan telaga pengilon terlihat bersebelahan dengan iringan pepohonan di sampingnya. How beautiful! Pemandangan ini cukup mengobati kekesalan karena tersesat, terlebih suami yang agak jengkel karena jalan yang jelek itu membuat salah satu part mobil berbunyi ‘klotak-klotak’ saat berjalan.

Sekitar 20 menit perjalanan dari Dieng, sampailah kami di gerbang Desa Sembungan; desa tertinggi di Pulau Jawa 2.350 mdpl. Wew! Masyaa Allah akhirnya kami bisa sampai di sini (padahal tetangga kami pun ada yang berasal dari desa ini).

welcome to Sembungan Village


Masuk Desa sembungan, kami diminta untuk membayar Rp.5000 per orang. Alhmdulillah dapat diskon juga. Perjalanan masih berlanjut, sekitar 10 menit melewati jalan desa dan jalan berbatu di tengah ladang kami sampai di area parker tepat di sebelah telaga cebong. Oia, jalan menuju kesana hanya cukup dilewati satu mobil, jadi kalau berpapasan salah satu harus mengalah.

Yup! Pendakian pun dimulai. Persiapan seadanya kami bawa. Ternyata, banyak sekali yang naik bersamaan dengan kami. Mulai anak muda berpasangan, rombongan pecinta alam, sampai kakek-nenek beserta cucu-cucunya. Rupanya siang hari pun tak kalah ramai (awalnya kami pikir siang hari tidak seramai malam hari).



    Hasna, Ayah dan Bunda di puncak Sikunir

Sepanjang perjalanan, saat berpapasan atau ada yang mendahului, selalu menyapa kami dan anak kami: ‘ih, dedek bayinya ikut naik’; dan dengan ceria selalu kami jawab ‘iya nih, dedeknya cinta alam sih’ hahaha. Tentu saja berusaha menjawab dengan ceria, meskipun nafas ngos-ngosan. Hampi satu jam akhirnya kami sampai di puncak. Cukup seru, dan Subhanallah, dari ketinggian di puncak sikunir memandang ke bawah barisan bukit-bukit yang sangat menawan.

                               d sisters

 

Rasanya baru bentar banget di puncak sikunir, ternyata sudah lewat waktu dzuhur! Wowowowow…. Si bapak berdua nyari air buat wudlu, ternyata kamar mandinya dikunci. Yasudahlah, kami pun bertayamum… memanfaatkan debu-debu di tiang yang berdiri di puncak itu. Eladalah… ternyata tiangnya selain berdebu ternyata bercoret arang juga dimana-mana jadinya moment tayamum dan shalat itu awalnya tidak khusyu’ karena saling cekikik.

Shalat di alam terbuka ditemenin angin yang makin kenceng, kabut muali turun… sungguh deh! Moment langka ini namanya… moment jatuh cinta sama alam dan penciptanya.



Habis shalat langsung buru-buru turun, kabut mulai turun juga sementara kita bawa bayi n krucil2. Bismlilllah… jalan turun tentu lebih berat dibandingkan naiknya. Dan sampai di lapangan parker, seplastik tempe kemul hangat menanti (lebih tepatnya melambai-lambai dari meja penjualnya). Serunya, menikmati tempekemul di depan telaga cebong.



               narsis di perjalanan turun sikunir

Saatnya pulang, habis puas foto n narsis paling enak lanjut perjalanan nyari tempat asyik lagi. Tujuannya ke candi biar bisa piknik lagi. Ternyata pas mau masuk sana disuruh bayar terusan @10.000. kita udah bilang mau ke candi aja ga mau terusan tapinya nggak boleh. Yaudah, mending ga jadi aja. Makan bakso panas lebih enak daripada piknik disana. Hahaha. Memang ini busui sudah kelaperan. Makan bakso yang rasanya biasa pun jadi nikmat. Yummy..

Habis makan bakso, shalat ashar di masjid yang airnya brbrbrrrr… kayak air es trus lanjut pulang. Bye bye sikunir, dieng, we’ll miss u… :*