Rabu, 21 Januari 2015

Belajar Bercerita

Aku ingin mewariskan buku kepada anak cucuku, sebagaimana mbah kakung dan bapakku. Setiap bulan, setelah mengambil dana pensiun di kantor pos kota, Mbah Kakung selalu menyempatkan mampir ko toko buku dan membeli komik-komik kisah Nabi, komik kisah teladan, buku kisah Nabi, kisah Walisongo, dan terkadang majalah bekas. Alhamdulillah, di tengah keterbatasan masih ada rasa haus akan ilmu.

Buku-buku cerita di perpustakaan sekolah pun selalu kulahap dengan rakusnya. Senang rasanya membaca cerita,meskipun belum ada keinginan untuk menulis. Sampai di bangku SMP Allah mempertemukanku dengan seorang sahabat yang sama-sama hobbi membaca dan punya koleksi buku. Dari sanalah aku mengenal kisah islami, lewat majalah Annida bekas yang dipinjamkannya padaku. Oia, kakak temanku itu rajin mengirimkan majalah Annida dan buku cerita islami kepadanya. Aku mulai mengenal nama Helvi Tiana Rosa, Asma Nadia, Afifah Afra, Muthmainnah. Boim Lebon, Melvi Yendra, Muttaqwiati, Nurul F Huda, Ali Muakhir, dan sederet nama penulis lainnya.
Hampir tiap pekan selalu ada buku yang dibawakannya untukku. Jika ada buku baru, ia kabarkan dan aku pun rela berjalan kaki menuju rumahnya yang jauh dari rumahku  untuk meminjam buku.

Lama kelamaan aku pun ingin memiliki sendiri majalah Annida dan buku kisah islami. Dan dengan menabung sedikit demi sedikit aku bisa membeli buku itu. Perlu diketahui, di kota kelahiranku Wonosobo, sangat sulit mencari buku-buku cerita islam. Di salah satu swalayan besar pun hanya ada beberapa judul. Kumcer Afifah Afra GENDERUWO TERPASUNG adalah buku yang pertama kubeli dari hasil menyisihkan uang saku. Alhamdulillah... Berkali-kali kubaca kisahnya jika tak ada bacaan lain. 

Hal menarik lain selain membaca buku adalah berdiskusi dengan Bapak. Ya, beliau pun selalu menyempatkan membaca majalah Annida dan buku-buku yang kupinjam dari temanku. Bapak hanya seorang petani sederhana, tapi karena suka membaca (menurutku) ia tahu banyak hal.

Saat membaca Genderuwo Terpasung, tiba-tiba bapak berkomentar: Ini penulis ekstrimis, hati-hati kalau baca buku-bukunya. Aku tersentak. Maksudnya apa ya? kenapa bapak bisa berfikiran begitu?. Lihat saja nama pena nya, Afifah Afra Amatullah. Dan cerita-ceritanya di Annida juga kebanyakan seperti orang islam garis keras, katanya.
Benarkah begitu? Tapi aku teruskan untuk membaca dan menikmati alur cerita dan tetap rajin meminjam buku dari sahabatku.

Membaca Bulan Mati di D Javache Oranje (BMDJ) , komentar Bapak pun lebih banyak lagi. Mulai dari setting waktu yang kurang pas dengan kondisi yang diceritakan, tokoh yang terlalu berlebihan baiknya, sampai katanya perempuan di zaman itu belum ada yang memakai abaya dan jilbab lebar, dll. Aku hanya diam dan terus menikmati novelnya, karena bagiku semuanya bagus, malah membuatku meleleh di beberapa bab. Mungkin semua yang bapak sebutkan hanya karena pengetahuan bapak yang masih sedikit terhadap hal-hal tersebut. Saya yakin penulis sudah melakukan riset mendalam untuk novel sejarah semacam itu.

Dari sana saya belajar bahwa untuk menulis cerita, tidak hanya ceritanya yang menarik tetapi harus 'pas' dengan logika. Sejak saat itu pula jika membaca novel saya sering mengkritisi (meskipun saya selalu membaca sampai tamat) dan ngedumel sendiri. 'Ih, masa anak 6 tahun sudah bisa berfikir seperti itu? Sudah sebijak itu? Batinku saat membaca sebuah novel yang tokoh utamanya anak umur 6 tahun yang begitu hebat dan bijaknya. Atau 'memangnya waktu itu keluarga sederhana di pegunungan sudah mengenal sikat gigi untuk masing-masing orang? Setting waktunya kan tahun 70an'. Dan berbagai komentar lainnya. Hm.. Komentar itu tentu bukan mengkritik penulisnya, bukan sama sekali. Siapa saya bisa berkomentar macam-macam terhadap penulis besar?. Ya, komentar itu semata karena saya ingin belajar agar tulisan saya lebih baik dan lebih baik.

Setelah melanjutkan SMA dan jarang bertemu sahabat SMP lagi, sering pula kupinjam novel-novel islami dari perpusda. Alhamdulillah,.. Selalu menambah ilmu.
Terimakasih mba Afra, telah menjadi salah satu muslimah yang memotivasiku untuk menulis. Banyak kisah-kisahmu yang membuatku tersentak, tertohok, malu, banyak pula yang membuatku nangis bombay berderai-derai *lebay. Memang sih, ada beberapa yang kadang terlalu lebay dan terlalu banyak diskripsi. But at all, i luph u full. Hehehe.
Bertemu denganmu saat forum muswil FLP di solo adalah kenangan tersendiri buatku, karena bisa ngobrol asyik dan bahas FLP Wonosobo (hiks. feeling guilty karena sampai sekarang beum jalan, Aku malah pindah ke Semarang dan teman-teman yang dulu bersemangat sekarang sibuk sama keluarga masing-masing. *nangis).

Sebenarnya, pertama kali bertemu denganmu langsung saat launching D wisnt di Gramedia Javamall. saat itu aku masih semester 3 dan unyu-unyu, hanya 'menikmati' launching dari bangku pojok belakang lalu berjabat tangan saat minta tanda tangan buku yang kubeli. ke dua kalinya, dalam bedah 'And The Star Is Me' oleh BEM FIB Undip, sempat sedikit ngobrol dan foto bareng sama teman-teman. 

Terimakasih Mba Afra, terus berkarya untuk Indonesia.
Me w/ Mba Afra di Musywil FLP 2012
Me W/ Mb Afra's Book


Buku Afifah Afra yang pernah kubaca
(yang masih kuingat, karena sudah banyak yang lupa)
  1. Genderuwo terpasung
  2. Bulan Mati di D Javache Oranje
  3. Peluru di Matamu
  4. Serial Elang (1-3)
  5. Sayap-Sayap Sakinah
  6. Mei Hwa Dan Sang Pelintas Zaman
  7. Kesturi dan Kepodang Kuning
  8. And The Star Is Me
  9. De Winst
  10. Syahid Samurai
  11. Kembang Luruh di Rimbun Jati
  12. Serial Marabunta 1-3 (hiks. Belum baca yang ke 4)
  13. Rabithah Cinta
  14. Tersentuh Ilalang
  15. Tarian Ilalang
  16. Jangan Panggil Aku Josephine
  17. Mawar-mawar Adzkiya
Semarang, Januari 2015
PS: Maaf, tulisannya random banget.. *nyengirkuda
.

Mie Goreng Cah Sawi-Sosis Telur Ceplok

Mie, adalah makanan favorit suami dan adik ipar. Saat mereka berkumpul di rumah, atau saat pulang malam terlebih hujan, pasti yang pertama adalah merayu untuk dibuatkan mie, entah mie goreng atau mie rebus. Kenapa harus merayu? Hihi karena saya paling tidak suka melihat orang makan mie instan tiap hari. Prinsipku, maksimal satu kali makan mie instan dalam satu minggu. So, jika tidak dalam keadaan terpaksa seperti kehabisan makanan saya tidak mau membuatkan dengan alasan masih ada makanan lain yang lebih sehat. Meski selalu ada persediaan mie instan di lemari dapur.

Dan saat suami 'ngidam' mie, saya pun berusaha membuatkan mie yang komplit, plus sayur dan lauk seadanya isi kulkas. Seringnya mie-sawi-wortel-telur; mie-kol-telur, bayam bahkan pernah juga kutambahkan buncis atau kacang panjang. Ngebayangin rasanya aneh?! Nggak ko, kan sayurnya kalau yang tidak umum seperti buncis atau kacang panjang direbus baru dimasukkan ke mie sebelum disajikan. Kalau terpaksa tidak ada sayuran cukup mie-telur ceplok.

Kemarin malam, suami pulang hujan-hujanan. Jadilah keinginannya makan mie kukabulkan. Tsaah!! Kasihan melihatnya kedinginan. Lihat isi kulkas ada sawi, sosis, telur, wortel, bayam. Hm... Bikin kreasi gimana ya? Biar ga biasa?! *mikirsambil bawa sawi sama sosis. Wortelnya disisihkan buat makan Hasna besoknya. Hm... Bikin mie rebus biasa aja deh, tinggal tambah sosis aja. Eh, ternyata adanya mie goreng. Yasudah, sambil masak mienya sambil dipikir lagi. Hahaha. Jadilah mie goreng cah sawi-sosis telur ceplok karena tiba-tiba ingat pernah makan mie capcay di warung makan mie sekelas istana. Hehehe. Alhamdulillah rasanya yummy banget... Suami sukaaaak!! *kedipkedip.

Ada yang mau resepnya? Monggo dicatat dan dipraktekkan.

Bahan:

2 bungkus mie instan (saya pakai mie seda*p goreng). Rebus lalu campurkan semua bumbu, sisakan bumbu taburnya).
2 telur ayam, goreng ceplok
3 bonggol sawi/baby bokcoy potong-potong
2 sosis sapi (ayam juga boleh) potong miring
2 siung bawang putih, geprek
1 sdm minyak goreng untuk menumis
Sedikit lada bubuk
Sedikit garam

Caranya

Panaskan minyak goreng, tumis bawang hingga harum. Masukkan sosis dan sawi, masukkan garam dan lada bubuk, aduk-aduk hingga layu. Angkat.

Siapkan piring saji, tuang mie goreng ke dalam piring, rapikan. Tuang cah sawi-sosis di atas mie goreng, rapikan. Terakhir taruh telur ceplok di atasnya dan taburi bumbu kriuk yang tersedia di mie instan atau bisa diganti bawang goreng.

Jika adanya mie telur biasa juga bisa ko.. Tinggal dibuat mie goreng dengan bumbu bawang putih, merica, garam, kecap manis dan saus pedas/cabe. Hm.. Makan mie pun jadi terasa lebih istimewa. Selamat mencoba.
_yummy_


Selasa, 20 Januari 2015

Istri Pencemburu

Cemburu adalah tanda cinta. Sepertinya, pepatah itu benar adanya, terlebih cemburu yang menempel pada hati pasangan suami-iatri. Bayangkan apa jadinya jika tidak ada rasa cemburu dalam hati manusia? Maka manusia tak ubahnya binatang yang dengan leluasa tanpa merasa berdosa gonta-ganti pasangan. Seperti halnya cinta, cemburu juga anugerah dari Allah dan fitrah yang melekat pada manusia.

Sebelum menikah dulu, utamanya saat berkumpul dengan rekan kerja dari luar kota, istri pencemburu seringkali menjadi topik menarik untuk dibicarakan, bahkan (astaghfirullah) pernah berujung pada ghibah, ngomongin para istri bapak-bapak atasan atau rekan kerja yang pencemburu bahkan sampai meneror rekan kerja suaminya yang perempuan jika mereka bersama dalam sebuah kegiatan.

Namun waktu itu pun kami terfikir bahwa mungkin saja yang dirasakan oleh pasangan suami istri beda dengan perasaan para jomlo dalam memandang kecemburuan ini. Maklum lah, kami semua belum menikah waktu itu dan belum tahu rasanya mencemburui suami yang bekerja di luar.

Cemburu dengan laptop, gadget, game online, TV, dan benda mati lainnya hanyalah sedikit dari porsi cemburunya seorang istri terhadap perempuan lain di luar sana. Ayo ngaku.. Siapa yang nggak pernah cemburu sama suaminya?. Yang ngga pernah merasa khawatir jika suaminya bergaul dengan berbagai macam karakter orang terutama perempuan?.

Memang, Allah memberikan ujian bagi manusia adalah pada titik kelemahannya. Sebagian diuji dengan harta, wanita, sebagian yang lain diuji dengan waktu yang sia-sia.

Cemburu, jika tak dimanage dengan baik salah-salah bisa menjadi boomerang, bisa menghancurkan keharmonisan rumah tangga. Cemburu penting, tapi bukan cemburu buta. Cemburu seperlunya malah akan meningkatkan gairah hidup karena ada letupan-letupan kecil dalam perjalanannya, tidah lempeng lurus saja.

Maka istri pencemburu itu wajar. Itu hanyalah ekspresi dari rasa sayang dan cintanya kepada suami. Jika istri terlihat ribet dan ingin tahu dimana posisi suaminya, pulang jam berapa, dll adalah ungkapan rasa keibuan yang melekat pada dirinya. Hanya untuk memastikan orang terkasihnya baik-baik saja.

Namun jika tanpa sebab yang jelas kemudian menanyakan kepada rekan kerjanya perihal suaminya, tentu berlebihan. Laki-laki pada dasarnya tidak suka di judge (wanita juga tidak suka ya?), maka berilah kepercayaan padanya, sepebuhnya sembari berdoa agar Allah senantiasa menjaga hatinya dan istrinya agar selalu terpaut tak tergoda orang lain.

Terkadang suami malah lebih cemburuan dibanding istri, hanya ia tak mengekpsresikan sebagaimana perempuan lugas mengutarakan perasaannya.

Cemburu, kenapa tidak?! Itu bumbu cinta yang akan membuatnya makin gurih. Hihi. 

Minggu, 18 Januari 2015

Tips Agar Punya Banyak Clodi

_Clodi. doc pribadi_
Ibu-ibu pastinya dikenal jadi makhluk yang paling hemat (baca: irit) di satu sisi dan gila belanja di sisi lain. Nah, masalah terpenting adalah kadang kita (baca: ibu) harus terpaksa ngirit karena kondisi. Harga barang pokok yang makin naik sementara gaji tidak ikut naik, atau kebutuhan bertambah karena bertambahnya usia atau berubahnya pola hidup; makin membuat para ibu harus mengencangkan urat lehernya.
Salah satu hal yang hampir pasti dialami oleh semua pasangan adalah mengurus bayi. Terbayang kan, repot dan banyaknya anggaran yang harus dikeluarkan untuk malaikat kecil itu?. Contoh kecilnya masalah sederhana: POPOK yang sangat berpotensi menjadi tidak sederhana. 
Apatah perihal popok ini bisa menjadi hal yang rumit? Hm... Kalau dijelaskan bakal panjang kali lebar sama dehgan luas.
Namanya masih bayi tentu pup dan pee masih belum bisa mengatur sendiri dan harus dibawah pengawasan orang tua. Bayi new born bisa pee dan pup berkali-kali sehari (indikator kesehatanya, min 6x pee). Kadang ada saat ketika sikecil 'menggoda' dengan bertingkah polah dan BAK saat baru diganti popoknya. Bagi ibu yang full dirumah barangkali bisa telaten memakai popok/celana biasa tanpa pospak tapi bagi yang sibuk, pospak menjadi alternatif yang menggiurkan.
Kembali masalah berhemat, memakai pospak tentu tidak bisa dibilang hemat. Salah saorang teman yang memakai pospak untuk anaknya yang baru lahir, bisa habis sampai 15pcs per hari karena setiap kali BAB khususnya harus diganti pospaknya. Kalau dihitung rata-rata harga pospak new born @Rp.1.500x15pcs = Rp.675.000 sebulan alias 30 hari. Teman yang lain mengaku menganggarkan pospak Rp.250.000 untuk bayinya yang berumur 15 bulan. Jumlah yang tidak sedikit kan?. Jika mau beralih ke clodi (cloth diaper) tentunya pun tidak mudah, apalagi terasa mahal di awalnya. 

Clodi? makanan apaan tuh? hehehe yuk atuh intip disini 

Tips beralih ke clodi
  1. Niat ikhlas untuk beribadah dan menjaga lingkungan dan mengurangi sampah
  2. Niatkan demi buah hati dan mengajarinya untuk hidup bersih dan cinta lingkungan
  3. Rajin nyuci
  4. Jadikan ritual perawatan clodi : nyuci dengan tangan, stripping, dll sebagai hobbi

Tapi yang sering menjadi kendala saat ada keinginan beralih ke clodi adalah harga clodi yang cukup mahal, berkisar @70.000. Ini juga yang membuat ibu-ibu maju mundur memilih clodi.
Yuk, intip tipsnya
  1. Anggarkan membeli 1-3 pcs clodi saat persiapan melahirkan/saat bayi belum lahir
  2. Sisihkan anggaran bulanan untuk pospak (misalkan setiap bulan butuh 3 pak pospak, sisihkan 1 pak untuk beli clodi. Selanjutnya clodi yang sudah disiapkan sejak sebelum lahir bisa digunakan selang seling pospak-clodi). Jika tiap bulan bisa menyisihkan 1 clodi, 3 bulan pertama sudah punya 3 clodi. Total 6 clodi. Dengan 6 clodi cukup untuk pemakaian di rumah demgan kejar tayang cuci: cuci-kering-pakai dan persediaan pospak bisa digunakan untuk keperluan saat membawa bayi acara di luar dan cukup lama.
  3. Bulan selanjutnya, tetap menyisihkan anggaran beli clodi hingga minimal punya 12pcs alias 1 lusin. Punya lebih banyak akan lebih baik, moms.
  4. Berteman dengan distributor clodi di fb atau BBM, pantau jika sewaktu-waktu ada hot promo
  5. Kadang ada yang jual clodi reject (ini bukan rusak clodinya, hanya kadang ada print yang kurang jelas atau warna mleber jadi tidak mempengaruhi fungsi). Harganya cukup terjun bebas.
  6. Jangan gila warna/motif, karena clodi yang warnanya cantik dan motifnya lucu bisa buat semua orang tergoda untuk membelinya. Cukup beli clodi dengan motif netral sehingga bisa untuk baby girl/boy, atau jangan pedulikan motif karena biasanya pakai clodi pun tetap dipakaikan celana.
  7. Perbanyak pilih clodi double insert agar punya stok insert lebih banyak
  8. Perlu menjadi catatan juga, 12 clodi cukup  ketika cuaca tidak mendung/hujan sehingga bisa kering dalam satu hari dan untuk besoknya masih ada stok clodi kering. jika musim hujan butuh clodi tambahan atau tambahan pospak sementara waktu
Bagi yang baru punya sedikit clodi, jangan berkecil hati, masih bisa diusahakan dan disiasati pemakaiannya.
Pospak mahal tapi praktis, sedangkan clodi lebih hemat tapi butuh perawatan ekstra. Semua punya kelebihan dan kekurangan, tentu. Silakan memilih. 
Selamat mencoba dan semangat berclodi, bunda.

Jumat, 16 Januari 2015

Belajar Sabar dan Syukur dari Penjual Kerupuk

Dua hari ini aku merindukan mereka. Rindu sangat. Mungkin terkesan lebay, tak apalah karena memang mereka telah mengajarkan syukur dan sabar padaku. Iya, syukur dan sabar, saudara kembar yang tak terpisahkan itu.

Mereka hanya sepasang suami istri yang sejak sebulan terakhir melewati jalan di samping rumahku. Mereka hanya penjual kerupuk bermodal seadanya. Tapi, yang membuatnya menarik adalah si suami ternyata (maaf) buta. Mereka menjajakan kerupuk itu keliling kompleks, si suami memikul dengan pikulan, si istri yang fisiknya sempurna menuntunnya menunjukkan arah. Bersamaan mereka menawarkan dagangan dengan suara serak, terkadang agak pelan kelelahan.

Krupukrupuk... Krupukrupuk... Krupukrupuk... Begitu seterusnya.

Awalnya kami_aku dan keluarga_ biasa saja mendengar mereka berjualan. Namun, setelah mengetahui kondisinya kami_terutama aku_ merasa trenyuh dan terharu melihat perjuangan mereka.

Bayangkan saja orang yang tidak bisa melihat, memikul beban dan harus berjalan jauh. How womderful!.

Mungkin seringkali kita jumpai seorang tuna netra mencari nafkah bergandeng tangan dengan orang normal tapi (maaf) meminta-minta. Meskipun tak ada salahnya jika kondisi menuntut demikian. Jadilah saat bertemu sepasang suami istri itum kami salut. Sangat salut. Terkadang ingin mengajak mereka berbincang lama, ingin tahu apa yang membuat mereka mau berjuang sekeras itu. Ah, tapi rasanya tak enak mencuri waktu berharga mereka. Siapa tahu ada anak-anak yang menunggu mereka pulang membawa makanan?.

Maka, saat mereka berdua lewat, ada syukur yang terucap dalam hati dengan kondisiku saat ini. Subhanallah.... Belajar dari mereka untuk bersabar menghadapi ujian hidup, untuk bersyukur menerima apapun yang diberikanNya. Belajar untuk setia pada suami/istri, seorang menjadi penopang sedang seorang lain menjadi penjaga. Belajar bekerja keras, karena hidup itu tak mudah, kawan.

Ya, dua hari terakhir tak kudengar suaranya menawarkan kerupuk. Padahal sejak kemarin sudah kurencanakan untuk berbincang dan berfoto atau 'mencuri' foto mereka. Ah, semoga Allah menjaga mereka dan keluarganya, semoga baik-baik keadaannya. Semoga karena dagangannya laris sehingga ia tak perlu berjalan lebih jauh lagi sampai melewati rumah kami. Semoga.

Terimakasih, bapak dan ibu, Fulan dan Fulanah, Mr.&Mrs.X


Sabtu, 03 Januari 2015

CINTA SEJATI ITU ADA

Tahun 2014 diakhiri dengan ramainya jagad perfilman indonesia dengan launchingnya film ASSALAMU'ALAIKUM BEIJING' yang diadopsi dari novel dengan judul yang sama oleh Asma Nadia. Hadirnya film ini memberikan warna baru bagi dunia perfilman setelah dulu muncul Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, 99 Cahaya di Langit Eropa, dll. Film ini mampu menutup 2014 dengan sesuatu yang mengesankan (diluar berbagai bencana yang melanda negeri ini).

Premier "Assalamu'alaikum Beijing" dilaksanakan tanggal 26 Desember, sedangkan nonton bareng Asma nadia dan para pemain pada tanggal 30 Desember. Setelah itu mulai booming di media sosial terkait film ini.

Saya pun penasaran, meskipun tak ingin kecewa seperti nonton film sejenis sebelumnya_fillm yang diadopsi dari novel islami best seller tapi setelah jadi film malah mengecewakan_. Mumpung ada liburan, maka saya mengajak (baca: merayu) suami untuk nonton bareng. Awalnya suami keberatan karena kami masih punya baby 10m, Hasna. Meskipun Hasna biasanya anteng dibawa kemana-mana, ayahnya tetap sangsi. Well, setelah berdiskusi panjang akhirnya setuju juga nonton film itu. 31 Desember, sore hari ia menelpon: Bund, ada temen yang ngajakin nonton double date, mau ga?! Tentu saja langsung dijawab MAU...!! Meskipun jam tayang terakhir.
Tapi, kecewanya tuh di sini, saat ia pulang dan langsung berseru: "Bund, tiketnya habiis. Batal nonton kita". Hiks.hiks

Gara-gara tiket habis inilah jadi makin pengen nonton. Kaya apa sih filmnya, sampe banyak yang pengen nonton gtu?!. Jadilah 1 Januari 2015 jalan-jalan ke mall berspekulasi kalau dapat tiket artinya jadi nonton, kalau tidak ya makan saja di luar.
Alhamdulillah, ternyata tiket jam 18.30 masih ada. Ada waktu 2,5jam akhirnya cuma muter-muter mall aja window shopping. Hihi.

18.30 wib film dimulai. Subhanallah... Bagus lah ini film. Memang recommended buat tontonan anak muda khususnya karena filmnya sarat makna tapi dikemas dengan asyik, tidak terkesan menggurui dan bawa-bawa ayat Alqur'an meskipun yang disampaikan adalah isi Alquran juga. Tau kan film Indonesia kebanyakan bernada islami tapi ceritanya tidak islami_ceritanya persis seperti film umumnya hanya saja pemainnya berjilbab-berkoko dan sering mengucap Assalamu'alaikum, dengan isi cerita yang menurut saya tidak bisa disebut islami, malah menyesatkan alias bisa membuat goyah keimanan penontonnya.

Film ini mengingatkan kita bahwa selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian.
Prolog film ini adalah percakapan dua orang dengan setting tempat yang sudah didekor untuk perkawinan. Ada janur kuning, pelaminan, bunga-bunga  dan pajangan lain. Ternyata, dua orang itu adalah Dewa dan Asmara yang akan menikah tetapi harus dibatalkan karena Dewa akan menikahi wanita lain, Anita yang telah hamil. Hff... Bagi seorang wanita, gagal menikah di saat undangan telah disebar dan pelaminan telah digelar adalah kekecewaan yabg teramat berat. Ya, ini mengingatkan bahwa jika belum menjadi rejeki seseorang, bahkan menikah pun bisa batal di saat-saat terakhir, terlebih urusan yang lain.

Selanjutnya, beranjak ke masa sebulan kemudian saat Asmara menginjakkan kaki di Beijing, karena bekerja menjadi kontributor majalah Indonesia di sana, meninggalkan kenangan dan luka di Indonesia.
Mulai dari sini penonton disuguhkan pemandangan alam di Beijing dan tempat wisata menarik lainnya mulai dari The Great Wall, kuil bumi-langit, masjid tertua yang dibangun tahun 996M, sampai patung A-Shi-Ma yang juga menjadi inti dari cerita. Dikisahkan tentang legenda putri Ashima yang cantik parasnya dan rendah hati serta sangat cantik pula hatinya bersama tambatan hatinya Ahe (ga tahu nulisnya yang bener gimana). Mereka tidak jadi bersama, tapi cinta Ahe terhadap Ashima tetap ada begitu pula Ashima. Ahe merasakan cinta Ashima lewat gaung-gaung yang terdengar di sekeliling patung itu.

Penonton seperti diajak langsung tamasya ke China, ikut berjalan di jalan-jalan sana dan menikmati keindahannya. Cerita makin menarik dengan onrolan-obrolan ringan antara Asmara (Revalina S. Temat) dengan Zhong Wen (Morgan Oey) tour guide yang menamani Asma selama di Beijing. Zhong Wen seorang atheis dan Asma seorang muslimah berjilbab. Keduanya pun saling menyimpan rasa, hingga di tengah-tengah tugasnya Asma harus kembali ke Indonesia karena menderita penyakit aneh, darahnya menggumpal yang menyebabkan ia stroke, bisa mengancam kebutaan matanya, juga bisu. Kehilangan Asma, Zhong Wen mempelajari islam lewat imam di masjid. Dan akhirnya... Silakan nonton filmnya atau baca novelnya.. Tersedia di toko buku. Hihihi.

Film yang romantis, cocok ditonton oleh suami istri, yang belum menikah, bahkan oleh remaja karena tidak ada adegan-adegan 'berbahaya' atau yang mengundang bahaya.
Isi dan pesan dalam film ini serius, tapi sepanjang film diputar hampir selalu ada tawa melihat adegan, obrolan dan polah lucu terutama dari pasangan suami istri sahabat Asma, Sekar ( Laudya Chintya Bella) dan Ridwan (Desta). Top deh! Two thumbs up! Soundtrack nya juga romatis... Halah! Dari tadi ngomong romantis melulu.. Karena ini nonton pertama bareng suami sih.. Ups. Iya, dulu baru nikah pengen nonton tapi merasa nggak ada yang cocok buat ditonton. Ya sudahlah... nonton sambil bawa bayi, kenapa enggak?!
Buat jomlower yang lagi nyari suami/istri, ada quote bagus juga... yang diucapin sama Desta. Eh, mas Ridwan maksdunya: Apa kubilang, yang penting iman, romantis itu belakangan. Juga kalimat yang diucapkan Asma: Cinta itu menjaga, tergesa-gesa itu nafsu belaka. Cuit.cuit..!! 
Tapi kalo yang memang sudah siap nikah, kudu disegerakan... namanya ibadan dan kebaikan itu harus segera tapi tidak tergesa-gesa. Setuju?! 

Oia, qoute yang nampol benget di ati nih.. Tak perlu fisik yang sempurna untuk memiliki kisah cinta yang sempurna. Cinta sejati itu ada. 
Aamiin... Semoga kau lah cinta sejatiku, dan aku cinta sejatimu, My luvly hubby honey bunny sweety... Hihi. Dan kita melangkah bersama, bergandeng tangan menuju JannahNya. Sakinah bersamamu, luph u pull :P 

Ayah, Bunda, Hasna