Kamis, 02 April 2015

Buat Apa Nulis Diary?


Dear diary,
Hari ini hari bahagia banget buat aku. Pagi tadi waktu jalan ke kampus tiba-tiba bla bla bla..



Pernahkah menulis seperti itu  dalam sebuah buku special bersampul lucu, bergembok dan ada wadah kotaknya?! Ya, buku diary ala remaja tahun 90an sampai 2000 awal. Mungkin anda juga pernah merasakan kesalnya mendapati buku harian yang memuat semua rahasia anda dan apapun yang anda rasakan tiba-tiba telah dibuka oleh orang terdekat anda baik orang tua maupun adik/kakak anda? Atau bahkan diintip oleh trman anda yang kepo saat anda membawanya ke sekolah?.

Hm.. Hampir semua orang yang menulis diary mempunyai kisah yang sama mengesalkannya tapi mereka tetap menulis di sana.


Ada beberapa alasan orang menulis diary


Iseng

Ada orang yang tidak bisa diam dan harus melakukan sesuatu di manapun. Orang seperti ini bisa memilih menulis diary karena dia bisa beraktivitas saat menunggu di halte, duduk di taman, atau saat  menunggu pesanan di warung makan. Nah, bagi orang tipe seperti ini, corat-coret di kertas adalah hal yang tepat daripada corat-coret bangku/pencat-pencet tuts HP/memainkan balpen dll



Hobi

Bagi orang yang hobi nulis diary, sehari tanpa menulis seperti punya beban besar dan hutang berat. Mereka yang menjadikannya hobi pun akan selalu setia menulis buku harian meskipun saat mati lampu (Jangan ditiru karena bisa membahayakan mata). Mereka cenderung konsisten menulis catatan harian karena sudah  mendarah daging.



Belajar nulis

Tidak percaya kalau nulis diary=belajar nulis?! Buktikan saja sendiri. Tips menulis adalah: menulis, menulis, menulis dan membaca. Jadi kalau mau belajar nulis nulislah diary setiap hari. Apapun yang ada di otak, di hati, yang di dengar, yanh dirasakan bisa dituliskan disana. Bisa juga menjadi semacam kisah perjalanan bagiyang hobi travelling. See?! Banyak penulis terkenal yang memulai debutnya dari buku harian. Sebutlah Andrea Hirata, Trinitry, dll.



Curhat dan Obat Stress

Hampir setiap orang khususnya perempuan sangat menyukai aktivitas satu ini. Tapi perlu diingat, jangan sampai curhat sama orang yang tidak tepat seperti suami/istri orang yang bisa-bisa jadi bumerang dan menjadi celah perselingkuhan (ih ngeri), atau curhat sama orang yang tidak dikenal dan baru ketemu di jalan (bisa bikinkeki yang dicurhatin).


Curhat memang bisa membuat hati lega dan ringan meskipun masalah jelas tidak selesai hanya dengan curhat. Tapi yang perlu diingat, tidak semua orang iklhas dengar curhatan kita. Solusinya, curhat lah pada buku karena dia tak akan protes apapun yang kita tulis.

Ingat dengan buku fenomenal Ainun-Habibie yang difilm kan itu? Nah, buku itu sebenarnya adalah salah satu terapi dari dokter untuk pak Habibie yang waktu itu depresi karena ditinggalkan Ibu Ainun. How amazing! Dari curhat bisa menjadi buku best seller bahkan di filmkan.



Sudah punya buku diary? Ayo dilanjutkan nulisnya. Buat yang belum punya, buku-buku dengan tema tertentu dan handmade bisa jadi alternatif lho, karena dibuat eksklusif sesuai yang diinginkan.


Mari menulis!




2 komentar:

  1. Diari ternyata bisa jadi harta karun yaa berupa ide2 tulisan yang nggak ada habisnya kayak koleksi diari dewi lestari...

    BalasHapus
  2. Bener banget Mba Dew..
    Penulis keren banyak jg yg idenya dari diary
    *bongkar2diarylagi

    BalasHapus

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,