Minggu, 31 Mei 2015

|| Happy B'day Mak Irits ||


IRIT  (baca: Hemat) pasti menjadi kosakata yang paling dihafal oleh ibu rumah tangga. Disaat sembako, cabe, bawang, biaya sekolah, pakaian, air, listrik dan seabrek kebutuhan lain harganya naik, yang paling heboh pasti IBU. Mikir gimana keluarga (terutama anak-anak) cukup gizi dan kebutuhan lain tetap tercukupi, syukur-syukur bisa nyalon dan jengjeng shopping sepuasanya. Dan lagi 90% wanita (ini data random aja, berdasarkan pengamatan sekitar, bukan penelitian. Ehehe *piss) pasti punya sifat dasar IRIT. Cocok lah sama Mak Irits yang ternyata sudah berumur 1 tahun itu. 

Ngucapin dulu deh.. *bunyiintrompet*toreroret..tettetetet

Kamis, 28 Mei 2015

|| Foto Cantik ||

Ini tentang DP BBMku beberapa hari yang lalu. Ceritanya ada sepupu suami yang resepsi nikah di Surabaya. Kami berangkat dari semarang hari sabtu. Rencananya, mau reyen elbise 10 by @samarah sama jilbab instan bolbal sifon buatannya mbak cantik QiQy Kuko Lekhah, tapinya ga jadi karena suami ngusulin pake sarimbit aja (sarimbit yg dibuat 2th yll menjelang nikah. Sy beli bahan, lalu kirim ke semarang, jahit sendiri2. ‪#‎gapenting‬) dan ada gamis Hasna yg di mix n match beli di mba Little Ilma. Oia, kebetulan juga punya jilbab segi empat #Rabbani size XL beli sdh lama tp blm pernah dipake.

Hari minggu itu pake jilbabnya sedikit dimodif, sekalian mau 'bilang' ke sodara2 kalo aku berjilbab lebar juga bisa bervariasi. Sebenarnya sih ga ribet cuma jilbabnya dilipat dua, pasang pake peniti, mirip pashmina trus di depan dibuat mirip lipatan2, pasang bros. Sudah. Ga sampai 5 menit slese. Hasilnya tetap lebar, simpel, cocoklah dipake poto sapa manten (hahaha. Just kidding).

Biasa deh, waktu acara selfie2 di tempat duduk daripada ga mudeng MC nya ngomong apa.

Besoknya pengen ‪#‎iklan‬ kalo temen2 Rabbani Gayamsari jual jilbab segi empat yang lebar... ada ukuran s-xl (size s 115x115) xl nya ga kuukur deh berapa karena di labelnya juga ga ada keterangan. Mungkin 130x130. Pokoknya kalo dipake ga pake dobelan pun sdh ga nerawang, intinya gitu.
Ganti DP BBM, langsung buanyaaak komen (krn jarang banget pke poto sendiri close up juga sih) langsung deh ditegur suami.
"Pake poto gitu ko ga bilang2 dulu? Biasanya izin kalo mau pasang poto yg ga biasanya. Hati2 lho... bisa bikin fitnah.."
Jleb. Astaghfirullah... nyengir lebar tapi merasa bersalah pake banget. Meskipun waktu dikomen seperti itu ssudah ganti lagi DP dua kali.
Hiaaaa!!! Maap... cry emoticon


Ya, biasanya saya minta izin kalo mau upload foto dan selalu diingatkan: JANGAN BERLEBIHAN mau upload foto sendiri, berdua, sama anak, ato apa aja. Hari itu saya khilaf karena bisa jadi ada sedikit ujub. Maunya ngajakin berjilbab lebar tapi malah kepedean berjilbab lebar dan 'gaya'.

Hm.. ini bukan masalah gayanya sih, biasanya juga kalo mau modif jilbab saya pun minta pendapat suami. Gini boleh ga? Pantas ga? Kalo berlebihan pasti dilarang. Saya termasuk yang setuju dengan modif2 jilbab asal ga menyulitkan saat wudlu atau dandannya berjam2. Ehehehehe. 

"Foto cantiknya buat koleksi pribadi aja, ga usah disebar2 ya... " kata pak Su lagi.
Hiks. Dan saya makin merasa bersalah.

Kamis, 07 Mei 2015

Si Nakal Yatim



“Mbak, kadang tu saya merasa ragu dan agak gimana gitu kalau sedekah untuk anak yatim. Seringkali saya melihat anak yatim yang nakal dan susah diatur,” seorang ibu curhat kepada seseorang yang ditemuinya.
“ Bisa jadi itu ujiannya, Bu.. saya sarankan Ibu sedekah melalui lembaga zakat saja, karena umumnya mereka mempunyai program pembinaan untuk para penerima dana, tidak hanya sekedar memberikan santuan tiap bulan, Bu. Oia, kasus anak yatim nakal itu juga tidak semuanya, banyak ko anak yatim yang sangat shalih,” jawab muslimah itu dengan santun.
“Oh, begitu... iya mba, kadang jadi kurang ikhlas setelah melhat anaknya..”

Tak hanya sekali dua kali kita pernah mendapati atau bahkan merasakan hal yang sama

Sepenggal Kisah Si Bejo



Sumi telah kehilangan senyumnya sejak laki-laki itu pergi. Perih di hatinya seakan sudah membatu, membuatnya mati rasa atas tumpahan rasa yang lain, tidak juga atas benih di dalam rahimnya yang menginjak bulan ke enam. Menyesal memang tak kan pernah muncul di depan. Seandainya ia tahu akan berakhir seperti ini tentu ia tak akan mau diperistri seorang sales marketing dengan dandanan mentereng. Seandainya ia mampu meramal masa depannya tentu ia tak akan mau memberikan sisa warisannya untuk laki-laki itu. Seandainya ia punya firasat tiga bulan yang lalu ia akan menggugurkan saja jabang bayinya.
Air mata Sumi telah mengering, ia hanya mampu menangis dalam diamnya, dalam hatinya. Entah setan apa yang membuat Jamal, suaminya itu tak mempercayai