Senin, 01 Juni 2015

Juni Istimewa

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono, 1989


Syair ini mengawali bulan Juni dan kebetulan sekali semalam hujan setelah beberapa hari Semarang panas menyengat.

Sebenarnya aku bukan pecinta hujan seperti kebanyakan penyair yang bisa mencipta puisi-puisi indah hanya dengan memandangi dan menikmati hujan. Bagiku, hujan adalah rahmat Allah yang wajib disyukuri, itu saja. Namun, sudah sejak lama aku jatuh cinta pada kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni’ karya Sapardi Djoko Damono ini.
Puisi-puisinya yang sederhana tapi rumit (hihi, susah menjelaskannya) intinya puisinya indah dan ringan saat dinikmati tapi maknanya dalam.

Saking memimpikan buku itu, saat 2nd anniversary tanggal 28 April kemarin aku meminta kado buku itu dari suami.
Kenapa meminta? Karena jika tidak meminta umumnya laki-laki tidak begitu peduli dengan tangal-tanggal dan moment istimewa (meskipun sering kali juga memberikan kejutan). Daripada kuminta hadiah dengan jawaban  ‘beli saja sendiri, kan Bunda pegang uang juga’. Langsung saja dengan PeDe kubilang minta hadiah buku puisi Sapardi Djoko Damono pas 2nd aniv. Hihi.

Alhamdulillah dikabulkan _dengan moment jalan-jalan ke Gramedia dan makan-makan.
Sebenarnya yang paling kusuka dari puisinya adalah puisi AKU INGIN yang sudah jamak dihafal orang, yang mewakili perasaanku pada suamiku, setelah kami disatukan dalam pernikahan.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

SDD,1989


Semoga ikatan mitsaqan ghalidza yang baru berusia dua tahun ini menjadi sakinah, mawaddah, rahmah, menjadi keluarga dakwah dan tarbiyah. Menjadi madrasah bagi anak-anak shalih/ah kami kelak, menjadi pendidik bagi para ahlul qur'an, ahlul 'ilmi, ahlul 'ibadah, dan banyak do'a terucap yang tak sempat dituliskan. semoga Allah mengabulkan do'a-do'a kami...

2 komentar:

  1. Happy anniversary mba arina, semoga selalu samara dan diberkahi Allah aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Makasih mba Dedew.. (hihi. padahal sdh sebulan yll :P ) do'a yang sama buat Mba.. ^_^

      Hapus

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,