Senin, 18 Januari 2016

Tips Memilih Pemancingan Aman Untuk Balita

Bawa balita ke pamancingan ibarat datang cari perkara. Ada yang punya anggapan seperti ini?! Kalo saya sih enggak, hehe.
Keluarga kami jarang bisa ngumpul karena beberapa kerja di luar kota. So, waktunya bisa ngumpul pemgennya hangout cari tempat hang asyik buat makan bareng lesehan dan menukmati suasana yang beda dengan rumah. Pemancingan, selalu jadi tujuan utama. Ada sikecil yang sedang aktif tentu butuh pemgawasan ekstra terutama saat beraktivitas di luar rumah.  Model pemancingan one stop recreation dan ramah anak sangat dianjurkan.
Nah, kali ini ingin berbagi beberapa tips untuk memilih tempat pemancingan yang aman, yuk kita simak.


Mancing dan dijaga ketat Mbah kakung

1. Pemancingan dengan Aneka Permaianan Untuk Anak
Model pemancingan seperti ini akan membuat anak terlupa dengan keasyikannya melihat ikan di kolam pancing atau penasaran dengan aktivitas memancing yang dilakukan orang dewasa.
Kolam renang, ayunan, kereta, dan lain-lain bisa mengalihkan perhatian sikecil saat menunggu pesanan makan tiba, daripada harus duduk di sebelah kolam dengan dia yang penasaran dan ingin ikut mancing, dengan resiko tercebur kolam. 
Salah satu wahana permaianan di Ngrembel Asri
2. Mudah dijangkau dan dekat dengan fasilitas umum
Menghabiskan weekend itu enaknya jalan ke tempat yang sepi, jauh, sejuk, kalau bisa sambil jalan kaki juga ke tempatnya biar aroma adventure makin berasa. Tapi, alangkah lebih baik jika memilih tempat yang dekat dengan fasilitas umum atau jika cukup jauh tapi mudah terjangkau. Ini hanya untuk antisipasi jika terjadi sesuatu dan butuh pertolongan segera.
Meskipun yang diharapkan pasti adalah keselamatan, sedia payung sebelum hujan juga penting sebagai tindakan preventif

3. Ada saung yang jauh dari kolam
Asyiknya ke pemancingan ya mancing sambil nunggu makanan siap, atau setelah makan sambil bercengkerama dengan keluarga.
Tapi, saat sikecil susah dikendalikan (misalnya pada anak yang energinya berlebihan) dianjurkan untuk memilih tempat yang tidak dipinggir kolam. Jika ingin menikmati kolam dan memancing, bisa dilakukan setelah makan dan dengan pengawasan ekstra pula. 

4. Cari Info sebanyak-banyaknya
Info bisa didapat dari brosur wisata, profil pemancingan di web masing-masing atau dari review orang-orang yang pernah berkunjung ke sana.
Jika resikonya lebih besar, harus berhati-hati dengan kemungkinan yang ada dan kalau bisa pengawasan minimal 2 orang. 

Jika terjadi hal yang tidak diingankan misalnya anak tercebur kolam, bagaimana mengatasinya?
Ehm! Beberapa waktu yang lalu saya dan Hasna, sikecil yang masih berusia 22 bulan ikut gathering di pemancingan di pinggiran kota Semarang. Di sini tidak ada wahana permainan, jadi adanya kolam pancing dan saung. Anak-anak yang lagi aktif-aktifnya pun berlarian kesana kemari dan sesekali mendekati kolam karena penasaranan dengan ikan yang terlihat. Nah, meskipun dengan pengawasan, ternyata anak saya tercebur juga. Rasanya seperti hatinya hilang entah kemana melihatnya tiba-tiba tercebur padahal saya awasi dari jarak beberapa meter, dan sesaat sebelumnya dia tengah tertawa ceria.
Asyik metik buah, mengalihkan perhatian dari kolam
Alhamdulillah kolamnya dangkal dan banyak lumpur, jadi tidak tenggelam. Hasna langsung diangkat dan dimandikan. Untung tidak ada luka luar, dan tidak muntah, menangis, tentu saja. Tapi begitu selesai mandi, ganti baju dan nenen, langsung lari minta main lagi, sambil 'cerita' kalau tadi dia jatuh. Ckckckckck. Bunda sudah macam orang jantungan dan mewek-mewek malah dia tertawa bahagia. Mau tak mau jadi ikut senyum juga, apalagi waktu telpon si ayah dan dijawab 'nggak apa-apa, biar ada cerita lucu. Anggap aja lagi latihan renang'. Waks?! 
Pertama, segera evakuasi sikecil dari kolam. Pastikan ada luka/tidak di tubuhnya, lalu segera besihkan. Jika ada luka segera lakukan pertolongan pertama dan berikan kenyamanan bada balita. Jka masih menyusui segera susui setelah kondisinya bersih, atau berikan pelukan hangat dari ayah/bundanya. Setelah itu rujuk ke rumah sakit/dokter jika diperlukan.
Semoga liburan bersama sikecil selalu menyenangkan, ya J

Selasa, 12 Januari 2016

Bermain Hujan

Hasna bermain hujan saat berkunjung kerumah teman
Siapa bilang hujan bikin sakit?! Yang ada adalah kita yang kurang tepat merawat diri setelah kehujanan, dan mungkin faktor imunitas yang sedang turun.

Banyak pakar mengatakan hujan bisa membuat anak cerdas. Dan saya setuju, meskipun sampai sekarang belum mengizinkan sikecil bermain hujan di luar. Mungkin nanti setelah agak besar dan ingin main hujan akan kuizinkan sembari kusiapkan air dan camilan hangat supaya setelah ia asyik bermain bisa langsung menghangatkan diri. Hm..

Untuk usianya sekarang yang masih 22 bulan, kumulai dengan mengenalkan hujan. Aktivitas ini sebenarnya sudah dimulai sejak ia mulai belajar mengucapkan kata. Saat hujan turun, aku bercerita bahwa hujan turun dan itu adalah rahmat dari Allah. Sambil menjelaskan bahwa salah satu do’a yang dikabulkan adalah do’a saat hujan turun.

Setelah itu kuajak ia membaca do’a saat hujan, mengucapkan berkali-kali dan mengajaknya menirukan. Setelah itu, mengajak ia keluar merasakan titik-titik hujan yang turun di telapak tangannya.

Dengan aktivitas ini melatih motorik halus, yaitu sikecil merasakan titik hujan yang dingin jatuh di telapak tangannya.
Melatih motorik kasar, saat mengajaknya berjalan atau berlari keluar rumah melihat hujan.
Melatih kognitif, dengan mengajaknya berbicara dan berhitung. Tentu, selain melihat hujan di luar juga bisa sambil mengamati kendaraan yang lewat atau tanaman dan binatang kecil yang ada di sekitar.
Terakhir, belajar agama yaitu belajar berdo’a saat hujan turun dan mensyukuri rahmat Allah berupa hujan.

Mudah dan mengasyikkan bukan?