Selasa, 09 Februari 2016

Belajar Pendidikan Sex Islami bersama ‘Selebriti’

Ehm. Serius nih, belajar Sex Islami sama selebriti?! Siapa gitu seleb-nya?
Nah, penasaran kan, sama seleb yang satu ini?! Beliau tuh seleb nya para emak dan orang tua yang ingin jadi ortu shalih untuk anak-anak mereka. Sebelum menuntut punya anak shalih, kita-nya juga kudu shalih dulu kan, Ayah-Bunda?.
Sejak masih lajang dan tinggal di Wonosobo (sekitar tahun 2012) di sana sudah ramai memperbincangkan si seleb ini. Sayangnya, waktu itu saya belum berkesempatan untuk mengikuti training dengan beliau yang begitu ‘wow’ diceritakan oleh teman-teman saya.
Setelah hijrah ke Semarang, tahun 2015 mulai dengar beliau ngisi training di sekolah-sekolah dan makin aktif mengajak orang tua dengan membuat komunitas YUKJOS alias ‘Yuk Jadi Orangtua Shalih’.
Kata teman-teman sih kenapa beliau bisa jadi seleb dan idola para orangtua karena coaching bersama beliau itu asyik, santai, dan kita banget. Beliau juga selalu totalitas saat sharing; bagaimana beliau memeragakan seorang anak kecil yang nangis sampai guling-guling jungkir balik, teriak-teriak, dan lain-lain. Makin penasaran siapa beliau?! tak lain adalah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhory yang lebih akrab disapa Abah Ihsan.
Oalah... kirain siapa seleb-nya. Nah, gimana?! Setuju nggak Ayah-Bunda kalau kita sebut beliau itu selebriti? Meskipun jangan sampai mengidolakan berlebihan, ya.. boleh banget ko mencontoh beliau dalam pendidikan anak; tapi jika hasilnya belum seperti beliau kudu sadar juga kalau tiap anak itu punya keunikan masing-masing. Berusaha dan tak lupa berdo’a untuk anak-anak kita, ya kan?! Terlebih di saat ancaman LGBT makin gencar meracuni setiap orang baik orangtua maupun anak-anak. Kita harus mendekap mereka lebih erat, membekali mereka dengan pengetahuan yang benar dan mendampingi mereka saat mereka ingin tahu agar tidak mencari sendiri informasi terutama dari internet yang tidak bisa dibedakan mana yang benar dan yang tidak.
Alhamdulillah, sangat bersyukur akhirnya bisa juga bertemu dan mendengar kajian oleh Abah Ihsan yang diadakan oleh komunitas HSMN (Home Schooling Musim Nusantara) Chapter Semarang bertempat di Pesantren Saubari Bening Hati Tembalang . Bener lho, beliau seperti yang diceritakan teman-teman. Berikut oleh-oleh dari acara itu.
Oia Ayah-Bunda, sebelum Abah Ihsan mengisi materi inti tentang ‘Pendidikan Sex’ beliau mengingatkan untuk menjadi orang tua shalih, yaitu orang tua yang bisa mmebri manfaat baik untuk anaknya maupun untuk orang di sekitarnya.
Suasana diskusi dan silaturrahim HSMN
Nah, tentang pendiidkan sex, beliau memaparkan bahwa yang lebih tepat adalah menggunakan aksioma ‘Pendidkan Bersuci dan Pergaulan’ karena saat ini pendidikan sex identik dengan teori yang diadopsi dari barat yaitu sekedar ‘kesehatan reproduksi’ padahal dalam islam telah diatur yang lebih kompleks dari itu, menyeluruh dari hal yang paling sederhana sampai yang krusial.
Pendidikan sex mau tidak mau harus dibicarakan bersama anak karena hal itu adalah hal yang alamiah. Salah-salah jika anak tidak tahu mereka malah coba-coba. Na’udzubillah..
Selain itu, hal ini juga memang tabu dalam artian tidak boleh diumbar-umbar ke orang lain harus menjadi rahasia ‘dapur’ suami istri tetapi boleh dibicarakan pada tempatnya seperti memberikan pengertian kepada anak atau jawaban dan diskusi saat mereka bertanya.
Abah Ihsan menyebutkan dalam islam, pendidikan sex adalah bagian dari An-Nidzom Al-Ijtima’i (Adab-adab Pergaulan) dengan beberapa turunannya seperti hijab, janabat (ikhtilam dan haidh), dan isti’dzan.
Nah, berikut ringkasannya, Ayah_Bunda:
1.      Anak usia 0-7 tahun harus diberi pengertian dan pengenalan tentang jenis kelaminnya secara jelas (perempuan dan laki-laki), termasuk menyesuaikan dengan cara berpakaian anak. Jangan sampai anak laki-laki dipakaikan baju perempuan dan sebaliknya
Perasaan malu jika terlihat auratnya pun harus ditanamkan sejak dini, maka sejak usia 2 tahun usahana untuk membedakan toilet (maksudnya jika bepergian dan harus ke toilet, usahakan anak laki-laki bersama ayahnya dan sebaliknya)
Saat anak berusia 6 tahun jangan biasakan ia untuk dipangku oleh orang lain selain ayah- bundanya.
2.      Tentang ikhtilam (mimpi basah) dan haidh, paling lambat harus diberi tahu saat anak usia 10 tahun. Zaman sekarang sudah umum anak perempuan usia 10 th sudah baligh, sehingga orang tua harus menjelaskan sebelumnya, agar anak tidak takut/malu saat pertama mendapat haidh atau anak laki-laki mimpi basah.
3.      Ajarkan anak tentang isti’dzan (adab-adab meminta izin), Allah berfirman dalam Al-qur’an Q.S An-Nur ayat 58-59
58. Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig (dewasa) di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan), yaitu sebelum shalat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan setelah shalat Isya’. (Itulah) tiga aurat (waktu) bagi kamu. Tidak ada dosa bagimu dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu; mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebahagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
59. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig (dewasa), maka hendaklah mereka (juga) meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Anak-anak harus meminta izin jika akan memasuki kamar orangtuanya, sebaliknya orangtua pun harus memberikan privasi kepada anak dan meminta izin saat akan memasuki kamar anak.
4.      Tentang hijab, tidak hanya berkaitan dengan hijab yang meutupi aurat tetapi juga hijab untuk memisahkan anak laki-kali dan perempuan.
Yang harus kita fahami, antara mahram pun tetap ada auratnya. Jangan sampai merasa bersama mahram lalu berpakaian seenaknya dan mengumbar aurat. Aurat tanpa ada batasan hanya untuk suami-istri.
Bunda ada yang dirumah suka pakai tanktop dan hotpants aja?  Hati-hati ya Bund, jangan sampai anak laki-laki bunda ‘bernafsu’ gara-gara itu. Pakaian yang begitu sebaiknya disimpan dan dipakai saat bersama suami di kamar saja.
Biasakan memisahkan antara laki-laki dan perempuan baik kamar, dalam majlis, dll kecuali dalam fasilitas umum yang tidak bisa kita cegah seperti kendaraan umum, pasar, dll.
Antar saudara laki-laki/perempuan pun harus ada batasan dan tidak boleh tidur dalam satu selimut. Sebaiknya, tidur satu ranjang untuk masing-masing anak jika tidak bisa usahakan ada pemisah agar tidak bersentuhan dan menimbulkan hal yang tidak diinginkan seperti LGBT. Na’udzubillah...
5.       Orangtua pun harus mengajarkan termasuk saat menerima tamu, istri/suami harus ditemani mahram nya jika tamu yang datang adalah non-mahram (perempuan rekan/saudara suami atau sebaliknya)
Begitu ringkasan dari materi yang disampaikan oleh Abah Ihsan, semoga yang sedikit ini memberi manfaat. Jika ada informasi yang kurang, semoga ada sahabat yang bersedia menambahi.
Ayah-Bunda penasaran dengan Abah dan ingin ikut trainingnya? Biasanya ada lho info tentang seminar atau training PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) dan PDA (Pelatihan Program Disiplin Anak). Untuk info lebih lanjut, Ayah-Bunda bisa mengunjungi auladi.net langsung, ya. Atau bisa menghubungi para alumnus PSPA/PDA di kota Ayah-Bunda.
Jaga anak-anak kita dari para ‘predator’ dan penghancur mental.
Semoga bermanfaat,  
Salam,
Foto bersama Komunitas Gandjel Rel


Foto Bersama sebagian peserta

8 komentar:

  1. Bisa join di fesbuk Komunitas Yukjos Semarang n visit webnya www.yukjossemarang.iblogger.org for further information. Salam Yukjos!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimkasih, Mba Marita..


      Silakan ya AYah-Bunda.. ^^

      Hapus
  2. Wah anak saya cowok nih mbak kudu waspada nih ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang mau anak cowok atau cewek kudu waspada ya Mba.. kalo dulu kan lbh serem anak cewek ya..
      bbro hari ini ada berita anak-anak yang mengalami pelecehan dan diculik kan? sediih.. :(

      Hapus
  3. Aku pernah lo ikutan acaranya HSMN dlu kakakku yg ikutan grup ini. Syang kemarin pas ga bisa ikutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapan Mba? dulu kita belum kenal kali Ya?

      Kakaknya Mba Muna siapa? hehe

      Hapus
  4. Acara yang sangat bermanfaat ya mbak Arina :)

    Betul mbak, jangan asal menasehati anak tapi kita ngga melakukan ya, kita harus mencontohkan kepada anak. Anak saya perempuan mbak, sudah saya wanti-wanti ibarat mau buang sampah dihalaman harus tetap pakai kerudung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Mba Anjar..

      Anak-anak memang kritis sekali

      Hapus

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,