Minggu, 30 Juli 2017

Weaning with Allah, Weaning With Love [Menyapih karena Allah, Menyapih dengan Cinta]


Bismillahirrahmanirrahim,
Apa kabar, Ayah-Bunda? Hm.. sudah lama sekali nggak menyapa di sini, hihi. Sebenarnya mau cerita tentang proses menyapih Hasna dari kapan tahu. Waktu itu juga ditunggu pengalamannya sama teman yang ‘senasib’ tapi subhanallah... setelah lebih dari setahun dari masa itu ternyata belum juga tertuang dalam tulisan. Hiks. Disitu saya merasa sedih.
Baiklah, mari kita lanjutkan.  
Menyusui merupakan moment yang indah dan membahagiakan bagi seorang ibu dan anak. Di mana, mereka bisa saling berpandangan menyalurkan cinta, menciptakan bonding yang kuat diantara mereka. Tentu, ketika sudah mencapai 2 tahun, kewajiban seorang ibu untuk menyusui anaknya sudah lunas, artinya dia sudah boleh berhenti atau menyapih anaknya. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 233

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah: 233).
ada beberapa pendapat yang mengatakan 2 tahun itu bukan waktu final, poin utamanya pada keihklasan ibu, bayi, dan ayahnya. Sehingga sebagian orang masih memeberikan ASI hingga usia anaknya melebihi 2 tahun. Hal ini tentu tidak perlu diperdebatkan.
Sebelum menyapih Hasna, saya pun mencari informasi dan sharing dengan sesama ibu menyusui yang pernah menyapih anaknya atau saat itu dalam proses penyapihan. Setiap anak itu unik, ini yang harus dipahami oleh setiap ibu. Pun ibu sendiri juga tidak sama dengan ibu yang lain baik kemampuan, kondisi, maupun kemudahan dan kesulitan yang dihadapi.
Ada sebagian yang diberi ujian hanya bisa memberikan ASI untuk anaknya selama beberapa bulan saja, ada yang terus-menerus berlimpah sampai lebih dari 2 tahun, ada pula yang berusaha sekenanya tapi ASI-nya luber-luber, ada yang harus berjuang mati-matian untuk pumping dan meningkatkan produksi ASI. Apapun kondisinya, harus tetap disyukuri dan dijalani bahwa itu adalah dalam rangka ibadah kepada Allah.
Alhamdulillah, saya termasuk yang sedang-sedang saja, ASI cukup tapi tidak sampai luber-luber dan bisa punya stok ASIP melimpah. Setiap saya menyusui dan memandangi mata Hasna, saya ajak dia untuk berdoa kepada Allah agar memudahkan proses penyusuan dan ASI cukup hingga masa penyapihan kelak.
Lalu bagaimana caranya menyapih agar tidak terjadi drama? Berikut beberapa hal yang saya lakukan.
Ikhlas dan Berdoa Kepada Allah
Seperti dalam kutipan ayat Al-Qur’an di atas, antara ibu, anak dan ayah harus ikhlas untuk menyapih. Jika kedua orangtuanya ikhlas tetapi anaknya belum mau disapih lalu dipaksa dengan dibohongi, misalnya, tentu tidak baik untuknya.
Saya sudah membahas hal ini dengan suami sejak Hasna usia 1,5 bulan bersamaan dengan sounding mengenai berhenti menyusui. Suami setuju dan bersiap untuk membantu proses penyapihan serta sounding. Terlebih anak kami itu terlihat bongsor melebihi usia sebenarnya. Saat usianya 2 tahun sering disangka usia 3 atau bahkan 4tahun. Tak jarang saat saya bawa pergi dan ia minta ASI, orang-orang dewasa di sekitar meledek, “sudah besar masih mimik ASI” yang hanya saya jawab dengan senyum tipis dan mengatakan usianya belum genap 2 tahun.
Seperti halnya memohon kecukupan ASI hingga 2 tahun, untuk menyapih pun harus ikhlas dan memohon pertolongan dari Allah. Jika di daerah saya (saat masih tinggal di kampung) sering menyapih anak dengan cara yang menurut saya tidak sesuai, maka saya tidak ingin menirunya. Ada yang mengoleskan Bratawali (tanaman obat yang sangat pahit) ke payudara agar si anak mengecap rasa pahit saat minta ASI dengan harapan si anak kapok meminta ASI lagi, ada juga yang mengoleskan minyak kayu putih, memasang plester dan berpura-pura sakit, atau memberi pewarna merah untuk menakut-nakuti. Kasihan anaknya kan kalau seperti ini?
Sounding tentang Penyapihan dan Hal Positif
Saat usia Hasna 1,5 tahun lebih, saya sudah mulai sounding bahwa sebentar lagi usianya 2 tahun. Usia 2 tahun artinya dia sudah besar dan tidak lagi menyusu bunda. Jika lapar/haus makan nasi, buah, camilan dll yang tersedia.
Awalnya, dia selalu menggelengkan kepala sambil tangannya mengibas menyatakan ‘tidak’ saat saya bilang “Hasna, sebentar lagi sudah 2 tahun. Kalau sudah 2 tahun mimik bunda-nya berhenti, Hasna sudah besar. Nanti minum pakai gelas, mimik bunda nanti buat adik kalau ada adik kecil lagi.” Hampir setiap menyusui saya sounding, lama kelamaan dia pun mengangguk-angguk entah paham atau tidak.
Saat menyusui sebenarnya anak mendapatkan rasa aman dan nyaman di pelukan ibunya, karena itu jika disapih ia akan merasa kehilangan. Pastikan hal ini pun tidak merisaukannya, meskipun telah disapih dia akan tetap mendapatkan rasa aman dan nyaman tersebut.
Siapkan ‘Pasukan’
Saya melakukan hal ini karena suami bekerja dan tidak bisa terus menerus membersamai. Kami merencanakan untuk menyapih Hasna saat pulang ke Wonosobo. Di sana ada Bulik Hasna (adik saya) yang bisa membantu handle. Memilih menyapih di Wonosobo juga karena di sana jauh lebih sejuk dibanding Semarang sehingga keinginan untuk minum pun berkurang.  
Dan ‘pasukan’ ini lah yang akan mengalihkan perhatian Hasna dari meminta ASI. Misalnya diajak jalan-jalan beberapa saat dengan membawa bekal makanan dan air putih/jus sehingga sejenak ia melupakan keinginannya minum ASI dan saat ‘kembali ke pelukan’ bunda dia sudah lebih slow, tidak selalu minta ASI.
Sediakan Makanan/Minuman kesukaannya
Anak mencari ASI tentu karena dia lapar dan atau haus. Untuk itu, kami mencoba menyiapkan makanan/camilan dan minuman kesukaannya. Sebelum genap 2 tahun kami memang memberikan tambahan susu UHT (saya pakai ultra mimi) dan dibatasi maksimal 2 kotak/hari (@125ml). Saat masih ASI biasanya hanya minum 1 kotak atau kadang tidak minum sama sekali.
Camilan seperti buah dan biskuit pun tersedia supaya saat dia minta ASI, bisa dialihkan ke air putih, buah, jus atau makanan lainnya.
Perlahan Mengurangi, Bukan Serta Merta menghentikan
Seperti halnya orang tua yang ingin berhenti dari sesuatu yang sudah terpola sejak lama, maka langkah awalnya adalah mengurangi sedikit demi sedikit, bukan langsung menghentikannya sama sekali.
Saat menyapih Hasna, sejak sebelum tidur saya sounding untuk berhenti mimik ASI (bahasa Hasna untuk nge-ASI). Bangun tidur saya sampaikan bahwa hari ini Hasna minum air putih atau minum susu menggunakan sedotan, tidak mimik bunda. Awalnya dia menolak namun dengan diberi peringatan akhirnya perlahan mau minum selain ASI. Dan sebelum dia meminta minum, saya sudah menawarinya terlebih dahulu. Bangun tidur menjelang sore hari dia menangis minta ASI akhirnya saya kabulkan, toh sejak bangun tidur belum minum ASI sama sekali. setelah itu tidak meminta ASI lagi dan malamnya masih belum bisa tidur tanpa ngenyot. Namun sewaktu terjaga di malam hari hanya saya beri air putih lalu dipeluk-peluk akhirnya bisa tidur lagi tanpa drama. Alhamdulillah... hari pertama hanya menyusui 2x selama 24 jam tanpa drama yang berarti.   
Hari ke-2, seharian tidak minta ASI karena teralihkan dengan banyak hal, tapi menjelang tidur tantrum minta ASI. Rupanya belum bisa menghilangkan kebiasaan tidur sambil nenen. Baiklah, tetap saya turuti sambil terus disounding besok tidak minta mimik bunda lagi.
Hari ke-3 masih sama dengan hari ke-2, dan akhirnya sama sekali tidak lagi minta ‘mimik bunda’ setelah kurang lebih seminggu. Sesekali dia datang minta dipeluk lalu berkata “Ini mimik bunda buat adik bayi, Hasna sudah besar minumnya pakai gelas,” meski raut mukanya masih ingin nenen. Ah, saya senang rupanya sounding selama berbulan-bulan ada manfaatnya dan ini bisa dijadikan moment untuk membesarkan hati dan mengapresiasi prestasinya.
Alhamdulillah... setelah selesai urusan penyapihan, masih banyak PR seperti toilet training, sekolah, dll. Harus semangat dan menyiapkan stok kapsul sabar berkarung-karung. Hehe.
Sekali lagi, tiap anak itu unik sehingga tidak perlu membandingkan dengan yang lain. Kita hanya bisa mengambil pelajaran berharga dari setiap orang dan mencobanya, mengambil mana yang baik dan sesuai untuk diterapkan dan mana yang tidak.
Semoga sharing ini bermanfaat, ya Ayah-Bunda.
Salam,


6 komentar:

  1. Nanti kukasih tau adikkum biat anaknya yang kedua, yang pertama sufor soalnya 😊

    BalasHapus
  2. Saya juga lagi dalam tahap penyapihan anak nih mbk, trim share ilmunya

    BalasHapus
  3. boleh dicoba ntar ini mbak. Nice info buat calon mama baru kayak saya hihihi

    BalasHapus
  4. 2 bulan menuju penyapihan, belum konsisten sounding ni mb..pernah mulai, anaknya manggut2 tapi ternyata minta lagi..hiks..

    BalasHapus

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,